Sabtu, 13 Maret 2010

NASIB OBAT DALAM TUBUH

Nasib Obat dalam Tubuh


Saat kita sakit, umumnya kita mengonsumsi obat. Obat yang kita minum tersebut dapat menyingkirkan penyebab penyakit, menghilangkan gejala penyakit, atau menghilangkan akibat lanjutan dari suatu penyakit. Apa pun jenis obat yang kita minum, bagaimanakah nasibnya di dalam tubuh kita?
Untuk dapat memberikan efek yang diinginkan, obat harus dapat mencapai tempatnya bekerja. Misalnya kita meminum antibiotik untuk pengobatan infeksi ginjal/kandung kemih. Agar antibiotik dapat bekerja untuk membunuh bakteri, obat tersebut harus mencapai ginjal (tempat antibiotik bekerja) terlebih dahulu. Setelah mencapai ginjal, antibiotik dapat membunuh bakteri sehingga memberikan kesembuhan yang diharapkan.
Setelah obat bekerja di dalam tubuh dan menghasilkan efek, obat akan dikeluarkan dari dalam tubuh. Ada banyak tahapan yang perlu dilalui obat mulai dari pemberian, kemudian menghasilkan efek, dan terakhir dikeluarkan dari dalam tubuh. Tahapan tersebut dikenal dengan nama administrasi, liberasi, absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi.
Administrasi adalah tahap pemberian obat. Obat dapat diberikan secara oral (melalui mulut), topikal (dioleskan pada kulit), inhalasi (melalui hidung), intramuskular (disuntik ke otot), subkutan (disuntikkan ke bawah kulit), kutan (disuntikkan ke kulit), atau intravena (disuntik ke pembuluh darah).
Liberasi merupakan tahap ketika obat dilepaskan dari bentuk sediaannya. Obat yang digunakan secara oral umumnya memiliki bentuk sediaan tablet, pil, kaplet, kapsul, atau serbuk. Untuk bentuk sediaan, saat berada di dalam saluran pencernaan akan hancur. Setelah sediaan obat hancur, zat aktif (zat yang dapat memberikan efek yang diharapkan) akan keluar kemudian larut di dalam saluran pencernaan. Tahapan inilah yang disebut tahap liberasi. Sediaan obat yang mengalami tahap ini adalah sediaan obat yang digunakan secara oral dan topikal.
Tahap selanjutnya adalah absorpsi. Setelah zat aktif terlarut di dalam saluran pencernaan, zat itu akan diabsorpsi/diserap melalui dinding usus dan memasuki pembuluh darah. Hanya zat aktif yang berada dalam keadaan larut yang dapat diabsorpsi. Terdapat banyak mekanisme absorpsi obat melalui usus, antara lain filtrasi, difusi pasif, transport aktif, difusi terfasilitasi, transfer pasangan ion, atau pinositosis. Sebagian besar obat diabsorpsi menggunakan mekanisme difusi pasif. Semua bentuk sediaan obat mengalami tahap absorpsi kecuali obat yang digunakan secara intravena karena obat disuntikkan langsung ke pembuluh darah sehingga obat sudah langsung berada di pembuluh darah. Oleh karena itu, efek yang diberikan oleh obat intravena lebih cepat muncul karena tidak perlu melalui tahap liberasi dan absorpsi.
Setelah berada di pembuluh darah, obat akan disebarkan ke seluruh tubuh bersama-sama dengan aliran darah. Obat dapat keluar dari pembuluh darah dan memasuki organ-organ tubuh. Tahap inilah yang disebut dengan tahap distribusi. Pada tahapan ini, obat sudah dapat mencapai tempat kerja dan memberikan efek yang diharapkan. Seperti contoh di atas, antibiotik yang dibawa aliran darah dari usus dapat memasuki ginjal dan bekerja di ginjal membunuh bakteri.
Beberapa senyawa obat juga dapat melintasi plasenta/tali pusat sehingga penggunaan obat-obat tersebut pada ibu hamil perlu dipertimbangkan karena ada kemungkinan berbahaya bagi janin. Jika obat yang melintasi plasenta mengandung racun bagi janin, dapat menyebabkan kelahiran cacat atau kematian janin. Jika bukti klinis terhadap penggunaan obat tersebut bagi ibu hamil tidak memberikan efek yang berbahaya, obat tersebut dapat digunakan untuk ibu hamil.
Beberapa senyawa obat juga dapat memasuki otak. Beberapa jenis obat flu yang terdapat di pasaran dapat menimbulkan rasa kantuk sebagai efek samping. Hal ini disebabkan senyawa obat tersebut dapat masuk ke otak dan bekerja menimbulkan rasa kantuk. Namun saat ini sudah banyak ditemui obat flu yang bebas kantuk sehingga penderita tetap dapat bekerja secara efektif. Hal ini dilakukan dengan cara mengubah sedikit struktur senyawa obatnya (menjadi lebih polar) sehingga tidak dapat masuk ke otak.
Obat yang berada di dalam tubuh akan dianggap sebagai benda asing oleh tubuh karena secara normal senyawa obat tidak terdapat di dalam tubuh. Tubuh memiliki mekanisme alamiah untuk mendetoksifikasi (menurunkan ketoksikan suatu zat) benda asing yang masuk ke tubuh. Oleh karena itu, senyawa obat akan didetoksifikasi oleh tubuh sehingga obat tidak terlalu toksik/beracun bagi tubuh. Proses detoksifikasi obat oleh tubuh merupakan tahapan metabolisme obat. Sebagian besar obat akan didetoksifikasi di hati oleh enzim-enzim mikrosomal hati. Hasilnya merupakan suatu senyawa yang sifat toksik/beracunnya lebih rendah dibandingkan dengan senyawa awal sehingga tidak terlalu beracun bagi tubuh.
Ada sekelompok obat yang disebut sebagai prodrug, yakni obat berada dalam bentuk aktif (bentuk yang dapat memberikan efek yang diharapkan) setelah didetoksifikasi oleh hati. Kelompok obat lainnya tetap aktif setelah mengalami detoksifikasi di hati. Namun, ada juga kelompok obat yang menjadi bentuk tidak aktif setelah didetoksifikasi di hati. Untuk kelompok obat yang terakhir ini, lebih disukai pemberian secara intravena (disuntikkan ke pembuluh darah) untuk menghindari proses detoksifikasi oleh hati jika sebagian besar obat mengalami detoksifikasi. Jika obat diberikan secara intravena, akan langsung tersebar ke seluruh tubuh bersama aliran darah, baru kemudian memasuki hati dan mengalami detoksifikasi menjadi bentuk tidak aktif. Sedangkan untuk pemberian secara oral, obat akan memasuki hati terlebih dahulu karena pembuluh darah yang berasal dari usus akan menuju hati, baru tersebar ke seluruh tubuh sehingga obat mengalami detoksifikasi terlebih dahulu sebelum sempat sampai ke tempat kerja. Jika terjadi demikian, obat tidak akan memberikan efek maksimal karena sebagian kecil/ besar obat sudah berada dalam bentuk tidak aktif.
Tahap terakhir yang dialami oleh obat adalah tahap ekskresi. Pada tahap ini obat akan dikeluarkan dari dalam tubuh dengan berbagai cara, antara lain melalui ginjal (air seni), saluran cerna (faeces), kulit (keringat), pernapasan (udara), mata (air mata), atau kelenjar payudara (air susu). Sebagian besar obat dikeluarkan melalui ginjal. Jika ginjal kita mengalami gangguan, kadar obat dalam tubuh akan meningkat akibat terhambatnya proses pengeluaran obat melalui ginjal. Oleh karena itu, pada penderita gangguan ginjal, perlu dilakukan penyesuaian dosis obat - terutama untuk obat yang dalam kadar rendah dapat menimbulkan keracunan dan obat yang toksik bagi ginjal (nefrotoksik) - agar kadar obat dalam tubuh tidak terlalu tinggi karena dikhawatirkan akan menimbulkan keracunan bahkan kematian bagi penderita. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar