ANDROPAUSE DAN MEOPAUSE
MENOPAUSE
Dalam proses menua setiap wanita akan mengalami masa klimakterium. Masa klimaketrium ini berlangsung beberapa taun, kadang-kadang lebih dari 10 tahun, antara usia 40-65 tahun. Masa klimakterium ini berakhir kira-kira 6-7 tahun sesudah menopause, dan terdiri dari beberapa fase yaitu:
• Pra menopause adalah masa 4-5 tahun sebelum menopause, dimana telah ada keluhan-keluhan klimakterik dan pendarahan yang tidak teratur.
• Menopause, artinya berhenti menstruasi yang permanent, diagnosa ini dibuat bila telah terdapat amenorea sekurang-kurangnya satu tahun. Pada umumnya menopause terjadi pada usia sekitar 45-50 tahun.
• Pasca menopause adalah masa 3-5 tahun setelah menopause.
• Ooforopause adalah pada saat ovarium kehilangan sama sekali fungsi hormonalnya.
Namun di dalam dunia medis dan masyarakat umum yang paling banyak mendapatkan perhatian adalah menopause.
Gejala Menopause
Dr. Janet Mc Arthur (1981) memerinci beberapa gejala yang terjadi pada menopause menurut waktu terjadinya:
- Gejala dini
Beberapa gejala dini yang menandai terjadinya proses menopause, antara lain:
• Gangguan menstruasi dimana siklus menstruasi menjadi tidak teratur
• Rasa panas (hot flushes). Hot flushes adalah sensasi subyektif yang terasa pada tubuh bagian atas, biasanya berlangsung 4 menit. Vasomotor flushes merupakan bagian obyektif dari gejala hot flushes, yaitu berupa kemerahan pada dada, leher, muka yang diikuti dengan keluarnya keringat. Palpitasi atau rasa tertekan pada kepala, rasa lemah, pusing, dan vertigo dapat menyertai hot flushes. Hot flushes terjadi jika ada penurunan kadar estrogen dan menghilang jika kadar estrogen meningkat.
• Keringat pada malam hari , sehingga menyebabkan sulit tidur, sering terbangun pada malam hari dan mudah lelah.
• Konsentrasi menurun
• Rasa cemas dan khawatir
• Rasa percaya diri menurun dan merasa tidak berguna
- Gejala lanjut
• Atrofi vagina dan pada keadaan lebih lanjut bisa menyebabkan atrofi uterus dan ovarium, serta terjadinya dispareunia
• Elastisitas uretra berkurang
• Perubahan-perubahan pada kulit. Kulit menjadi tipis, kering, dan kurang elastis karena penurunan produksi kolagen akibat menurunnya kadar estrogen.
• Payudara kehilangan bentuknya, dan mulai kendur akibat kadar estrogen yang menurun.
• Osteoporosis. Pada keadaan menopause yang sudah lanjut, kecepatan remodeling tulang tidak sebanding dengan kecepatan resopsi tulang yang masih lebih cepat. Percepatan hilangnya masa tulang 10 tahun setelah menopause 10 kali lipat., sehingga osteoporosis muncul terutama pada usia 60 tahun keatas dan dapat menyebabkan fraktur.
• Resiko menderita penyakit jantung koroner akibat aterosklerosis meningkat, hal ini mungkin berkaitan dengan penurunan kadar estrogen.
Seksualitas Pada Menopause
Banyak penelitian berpendapat bahwa kualitas dan kuantitias aktivitas seksual pada lansia bergantung pada kualitas dan kuantitas aktivitas seksual pada masa sebelum menginjak usia lanjut.Walaupun gejala-gejala menopause secara tidak langsung mempengaruhi responsitivitas seksual pada lansia namun bukan berarti menopause adalah akhir dari kehidupan seksual. Hal ini didukung oleh Master dan Johnson yang mengatakan bahwa kapabilitas seksual wanita tidak menurun sampai usia tua (sesudah 60 tahun sampai 80 tahun), namun diatas usia 60 tahun semakin sedikit wanita yang aktif seksual. Beberapa penelitian pun menemukan bahwa menurunnya minat akan aktivitas seksual lebih disebabkan karena faktor usia dan gejala vasomotor tidak berhubungan dengan aspek fungsi seksual.
ANDROPAUSE
Andropause berasal dari kata “Andro = kejantanan” dan “pause = istirahat”. Andropause dapat diartikan sebagai perubahan akibat proses menua pada sistem reproduksi pria mungkin di dalamnya termasuk perubahan pada jaringan testis, produksi sperma dan fungsi ereksi.
Ada yang memberi istilah andropause sebagai klimakterium laki-laki yang berarti seorang laki-laki sedang berada pada tingkat kritis fase kehidupannya, dimana terjadi perubahan fisik, hormon dan psikis serta penurunan aktivitas seksual. Perubahan-perubahan ini biasanya terjadi secara bertahap. Tingkah laku, stress psikologik, alkohol, trauma, ataupun operasi, medikasi, kegemukan dan infeksi dapat memberikan kontribusi pada onset terjadinya andropause ini.
Sebenarnya andropause bukanlah suatu fenomena baru, hal ini terjadi karena kemampuan kita untuk mendiagnosa andropause ini sangat terbatas karena tidak ada cara untuk menprediksi siapa yang akan mengalami gejala andropause. Test yang sensitif untuk mengetahui bioavaibilitas testoteron baru tersedia akhir-akhir ini, sehingga sebelum ada test ini andropause terlewatkan begitu saja tanpa terdiagnosa dan tidak memperoleh penatalaksanaan.
Etiologi
Mulai sejak kira-kira usia 30 tahun, kadar testoteron dalam tubuh menurun kurang lebih 10% setiap dekadenya. Pada saat yang sama Sex Binding Hormone Globulin (SHBG) meningkat. SHBG ini akan menangkap banyak testoteron yang bersirkulasi dan membuat testoteron tidak tersedia untuk digunakan pada jaringan tubuh khususnya untuk terjadinya perilaku seksual yang normal dan terjadinya ereksi.
Gejala dan efek yang ditimbulkan oleh andropause
Andropause berhubungan dengan kadar testoteron yang rendah. Setiap pria mengalami kemunduran bioavaibilitas testoteron, namun berbeda kadarnya pada setiap invididu. Ketika hal ini terjadi pria akan mengalami gejala andropause.
Beberapa gejala yang dapat timbul antara lain :
• Depresi
• Kelelahan
• Iritabilitas
• Libido menurun
• Sakit dan nyeri
• Berkeringat dan flushing
• Penurunan performa seksual atau disfungsi ereksi
• Sulit berkonsentrasi
• Pelupa
• Insomnia
Setiap ketidakseimbangan yang terjadi dalam tubuh akan menimbulkan efek tertentu, demikian juga andropause dalam jangka waktu yang panjang dapat menyebabkan:
• Osteoporosis
• Obesitas
• Kehilangan masa otot
• Resiko menderita arteriosklerosis
• Resiko menderita kanker payudara
• Resiko menderita kanker prostat
Sabtu, 13 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar