Sabtu, 13 Maret 2010

HORMON PERTUMBUHAN

HASIL DISKUSI KASUS 3
TUTORIAL ENDOKRIN, METABOLISME, DAN NUTRISI



MODUL 3 : “Anakku Pendek”
Bu Rina sangat khawatir melihat putri sulungnya, Riska, yang berusia 10 tahun. Hal ini dikarenakan tinggi badannya yang kalah tinggi dengan adik perempuannya yang berusia 6 tahun. Padahal nafsu makan Riska baik dan Bu Rina juga selalu memberikan multivitamin pada Riska. Riska juga tidak menderita penyakit berat, bahkan jarang sekali sakit. Pada waktu lahir, Riska adalah anak yang normal dan sehat, namun pada usia 4 tahun dia terlihat lebih pendek dari teman sebayanya. Saat itu Bu Rina memeriksakan Riska ke Puskesmas, petugas mengatakan tak perlu khawatir, ia nanti juga akan bertambah tinggi. Setelah dibawa ke dokter dan dilakukan pemeriksaan fisik dan ronsen tulang didapatkan tinggi badannnya 116 cm dan usia tulangnya sama dengan usia anak 6 tahun. Tinggi ayahnya 160 cm dan tinggi ibunya 158 cm. Akhirnya dokter menyarankan Riska untuk memeriksakan kadar hormon pertumbuhan.






STEP 1 - 7

A. STEP I
Klasifikasi Terminologi yang Tidak Diketahui

1. Hormon : penghantar (transmitter) kimiawi yang dilepas dari sel-sel khusus ke dalam aliran darah. Selanjutnya hormon tersebut dibawa ke sel-sel target (responsive cells) tempat terjadinya efek hormon.

2. Hormon Pertumbuhan : hormon yang disekresikan oleh kelenjar hipofisis anterior yang digunakan untuk pertumbuhan sel-sel tubuh.

3. Multivitamin : suplemen mikronutrien yang terdiri dari lebih dari satu vitamin.


















B. STEP II
Definisi Masalah

1. Klasifikasi hormon ?
2. Fisiologi hormon pertumbuhan ?
3. Hormon-hormon yang mempengaruhi proses pertumbuhan ?
4. Kelainan-sekresi hormon pertumbuhan ?
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi sekresi hormon pertumbuhan ?
6. Cara menegakkan diagnosis?
7. Penatalaksanaan kasus ?






















C. STEP III
Hipotesis

1. Klasifikasi hormon
 KARAKTERISTIK HORMON:
1. Mampu menimbulkan efek yang signifikan dalam kadar yang sangat rendah (10-6 – 10-12 M)
2. Sukar diisolasi, diidentifikasi, dan diukur secara akurat
3. Umurnya sangat pendek, disekresi setelah ada stimulasi dan segera diinaktifkan oleh enzim yang khas

 AKSI HORMON:
1. Secara langsung, dalam hitungan detik
contoh: epinefrin/adrenalin
2. Bekerja lambat, dalam hitungan jam – hari
contoh: estrogen

 EFEK YANG DITIMBULKAN HORMON:
1. Efek kinetik
Migrasi pigmen, kontraksi otot, sekresi kelenjar
2. Efek metabolik
Nutrisi, pertumbuhan, perkembangan, reproduksi
3. Efek perilaku

Suatu hormon dapat menimbulkan efek lebih dari satu
Contoh: estrogen
Efek: 1. memunculkan ciri kelamin sekunder
2. perubahan tingkah laku
3. kontraksi otot uterus (bekerja sama dengan oksitosin)

 Sekresi Hormonal
Hormon merupakan mediator kimia yang mengatur aktivitas sel / organ tertentu. Dahulu sekresi hormonal dikenal dengan cara dimana hormon disintesis dalam suatu jaringan diangkut oleh sistem sirkulasi untuk bekerja pada organ lain disebut sebagai fungsi Endokrin.
Ini bisa dilihat dari sekresi hormon Insulin oleh pulau β Langerhans Pankreas yang akan dibawa melalui sirkulasi darah ke organ targetnya sel-sel hepar.
Sekarang diakui hormon dapat bertindak setempat di sekitar mana mereka dilepaskan tanpa melalui sirkulasi dalam plasma di sebut sebagai fungsi Parakrin, digambarkan oleh kerja Steroid seks dalam ovarium, Angiotensin II dalam ginjal, Insulin pada sel α pulau Langerhans.Hormon juga dapat bekerja pada sel dimana dia disintesa disebut sebagai fungsi Autokrin. Secara khusus kerja autokrin pada sel kanker yang mensintesis berbagai produk onkogen yang bertindak dalam sel yang sama untuk merangsang pembelahan sel dan meningkatkan pertumbuhan kanker secara keseluruhan.

Gambar 1. Sintesis Hormon

Gambar 2. Sekresi Hormon

 Reseptor Hormon
Konsentasi hormon dalam cairan ekstrasel sangat rendah berkisar 10-15 –10-9. Sel target harus membedakan antara berbagai hormon dengan konsentrasi yang kecil, juga antar hormon dengan molekul lain.Derjad pembeda dilakukan oleh molekul pengenal yangterikat pada sel target disebut Reseptor
→Reseptor Hormon: Molekul pengenal spesifik dari sel tempat hormon berikatan sebelum memulai efek biologiknya. Umumnya pengikatan Hormon Reseptor ini bersifat reversibel dan nonkovalen. Reseptor hormon bisa terdapat pada permukaan sel (membran plasma) atau pun intraselluler.
Interaksi hormon dengan reseptor permukaan sel akan memberikan sinyal pembentukan senyawa yang disebut sebagai second messenger (hormon sendiri dianggap sebagai first messenger)
Jika hormon sudah berinteraksi dengan reseptor spesifiknya pada sel-sel target, maka peristiwa-peristiwa komunikasi intraseluler dimulai.Hal ini dapat melibatkan reaksi modifikasi seperti fosforilasi dan dapat mempunyai pengaruh pada ekspresi gen dan kadar ion. Peristiwa-peristiwa ini hanya memerlukan dilepaskannya zat-zat pengatur
 Struktur Reseptor Hormon
Setiap reseptor hormon mempunyai sedikitnya dua daerah domain fungsional yaitu : 1. Domain pengenal akan mengikat hormon 2. Regio skunder menghasilkan (tranduksi) signal yang merangkaikan pengaturan
beberapa fungsi intrasel
Reseptor hormon Steroid dan Thyroid membentuk suatu superfamili yang besar dari faktor transkripsi. Disini termasuk juga reseptor untuk vitamin D dan Asam retinoid.
Reseptor untuk hormon Glukokortikoid mempunyai beberapa domain fungsionalyaitu:
1. Regio pengikat hormon dalam bagian terminal karboksil
2. Regio pengikatan DNA yang berdekatan
3. Sedikitnya dua regio yang mengaktifkan transkripsi gen
4. Sedikitnya dua regio yang bertanggung jawab atas translokasi reseptor dari sitoplasma ke nukleus
5. Regio yang mengikat protein renjatan panas tanpa adanya ligand

Gambar 3.
Gambar 3. Struktur reseptor dari superfamili hormon Thyroid-Steroid Bagian atas adalah klasifikasi domain beberapa fungsi domain individual bagian bawah adalah contoh-contoh reseptor dengan berbagai domain digambarkan dalam skala Reseptor hormon Thyroid α2 dan faktor transkripsi COUP (Chicken Ovalbumin Upstream Promoter) diperlihatkan sebagai pembanding dan mewakili kelompok yang diperkirakan tidak mengikat suatu hormon

Reseptor Insulin berupa heterotetramer (α2β2) terikat lewat ikatan disulfida yang multipel :
- Subunit ekstramembran akan mengikat insulin
- Subunit perentang membran akan mentransduksi sinyal yang mungkin terjadi lewat komponen tirosin kinase pada bagian sitoplasmik polipeptida ini
Reseptor IGF, EGF , LDL, umumnya serupa dengan dengan reseptor insulin ini.Reseptor untuk ANF yang memiliki aktifitas guanilil siklase juga termasuk dalam kelas ini.
Reseptor hormon polipeptida yang mentransduksikan sinyal melalui pengubahan kecepatan produksi cAMP ditandai dengan adanya tujuh buah domain yang merentangkan membran plasma

Gambar 4. gambaran berbagai jenis reseptor membran dengan contoh masing-masing
 Klasifikasi Hormon
Hormon dapat diklasifikasikan melalui berbagai cara yaitu menurut komposisi kimia, sifat kelarutan, lokasi reseptor dan sifat sinyal yang mengantarai kerja hormon di dalam sel
• Klasifikasi hormon berdasarkan senyawa kimia pembentuknya
1.Golongan Steroid→turunan dari kolestrerol
2.Golongan Eikosanoid yaitu dari asam arachidonat
3.Golongan derivat Asam Amino dengan molekul yang kecil
→Thyroid,Katekolamin
4.Golongan Polipeptida/Protein
→Insulin,Glukagon,GH,TSH

• Berdasarkan sifat kelarutan molekul hormon
1. Lipofilik : kelompok hormon yang dapat larut dalam lemak
2. Hidrofilik : kelompok hormon yang dapat larut dalam air

• Berdasarkan lokasi reseptor hormon
1.Hormon yang berikatan dengan hormon dengan reseptor intraseluler
2.Hormon yang berikatan dengan reseptor permukaan sel (plasma membran)

• Berdasarkan sifat sinyal yang mengantarai kerja hormon di dalam sel:kelompok
Hormon yang menggunakan kelompok second messenger senyawa cAMP,cGMP,Ca2+, Fosfoinositol, Lintasan Kinase sebagai mediator intraseluler
Tabel 1..Klasifikasi Hormon Berdasarkan Lokasi Reseptor Hormon
Golongan I
Golongan II

Reseptor
Intraseluler
Membran plasma

Tipe
Steroid,Yodotironin,Kalsitriol,Retinoid
Polipeptida, Protein, Glikoprotein

Solubilitas Lipofilik/Hidrofobik Hidrofilik/Lipofobik
Protein Pengangkut Ada Tidak ada
Usia Paruh Panjang (Berjam-jam/berhari-hari)
Pendek (menit)

Mediator
Kompleks hormon Reseptor
Second messenger berupa:
cAMP,cGMP,Ca2+,
Fosfotidilinosi-
tol, Lintasan Kinase


2. Fisiologi hormon pertumbuhan
Fungsi fisiologis hormon pertumbuhan ada 2 :
a. Efek metabolik
b. Efek pertumbuhan

3. Hormon-hormon yang mempengaruhi proses pertumbuhan
- Hormon pertumbuhan
- Insulin
- Tiroid
- gonadotropin

4. Kelainan-sekresi hormon pertumbuhan
- Panhipopituitarisme
- Dwarfisme
- Gigantisme
- Akromegali

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi sekresi hormon pertumbuhan
Merangsang Sekresi Hormon Pertumbuhan Menghambat Sekresi Hormon Pertumbuhan
Penurunan glukosa darah Peningkatan glukosa darah
Penurunan asam lemak bebas dalam darah Peningkatan asam lemak bebas dalam darah
Kelaparan atau puasa, defisiensi protein Proses penuaan
Trauma, stres, rasa tegang Obesitas
Olahraga Hormon penghambat hormon pertumbuhan (somatostatin)
Testosteron, estrogen Hormon pertumbuhan (eksogen)
Tidur lelap (stadium II dan IV) Somatomedin (faktor pertumbuhan seperti insulin)
Hormon pelepas hormon pertumbuhan

6. Cara menegakkan diagnosis
a. Anamnesis
b. Pemeriksaan fisik
- Pertumbuhan gigi
- Pengukuran
- Laju pertumbuhan
c. Pemeriksaan penunjang
- Bone age
- Pemeriksaan hormon

7. Penatalaksanaan kasus
Medikamentosa
Anak dengan variasi normal perawakan pendek tidak memerlukan pengobatan, sedang dengan kelainan patologis terapi sesuai dengan etiologinya.








D. STEP IV
Curah Pendapat & Analisis Masalah

1. Klasifikasi hormon
Klasifikasi hormon berdasarkan fungsi ada 4, yaitu :
 Hormon perkembangan : hormon yang memegang peranan di dalam perkembangan dan pertumbuhan. Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar gonad
 Hormon metabolisme_proses homeostasis glukosa dalam tubuh diatur oleh bermacam-macam hormon, contoh glukokortikoid, glukagon, dan katekolamin
 Hormon tropik_dihasilkan oleh struktur khusus dalam pengaturan fungsi endokrin yakni kelenjar hipofise sebagai hormon perangsang pertumbuhan folikel (FSH) pada ovarium dan proses spermatogenesis (LH)
 Hormon pengatur metabolisme air dan mineral _kalsitonin dihasilkan oleh kelenjar tiroid untuk mengatur metabolisme kalsium dan fosfor.

2. Fisiologi hormon pertumbuhan
a. Efek Metabolik hormon pertumbuhan
 Meningkatkan kecepatan sintesis protein di sebagian besar sel tubuh
- Peningkatan pengangkutan asam amino melalui membran sel
Hormon pertumbuhan secara langsung meningkatkan pengankutan paling sedikit beberapa dan mungkin sebagian besar asam amino melewati membran sel ke bagian dalam sel. Keadaan ini meningkatkan konsentrasi asam amino di dalam sel dan diduga setidaknya berperan sebagian dalam meningkatkan sintesis protein.

- Peningkatan translasi RNA menyebabkan sintesis protein oleh ribosom
Bahkan bila konsentrasi asam amino tidak meningkat di dalam sel, hormon pertumbuhan tetap meningkatkan translasi RNA, menyebabkan lebih banyak protein yang disintesis oleh ribosom di dalam sitoplasma.

- Peningkatkan transkripsi nukleus DNA untuk membentuk RNA
Sesudah melewati jangka waktu panjang (24 sampai 48 jam), hormon pertumbuhan juga merangsang transkripsi DNA di dalam nukleus, sehingga meningkatkan jumlah pembentukan RNA. Keadaan ini meningkatkan sintesis protein dan juga meningkatkan pertumbuhan bila energi, asam amino, vitamin, dan bahan-bahan lain yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tersedia. Keadaan ini mungkin merupakan fungsi hormon pertumbuhan yang paling penting dalam jangka waktu yang lama.

 Meningkatkan mobilisasi asam lemak dari jaringan lemak, meningkatkan asam lemak bebas dalam darah, dan meningkatkan penggunaan asam lemak untuk energi
Hormon pertumbuhan mempunyai efek spesifik dalam menyebabkan pelepasan asam lemak dari jaringan lemak, sehingga meningkatkan konsentrasi asam lemak dalam cairan tubuh. Selain itu, di dalam jaringan di seluruh tubuh, hormon pertumbuhan meningkatkan perubahan asam lemak menjadi asetil koenzim A (asetil-KoA) dan kemudian digunakan untuk energi. Oleh karena itu, di bawah pengaruh hormon pertumbuhan, lebih disukai memakai lemak sebagai energi daripada memakai karbohidrat dan protein.
Kemampuan hormon pertumbuhan untuk meningkatkan pemakaian lemak, bersama-sama dengan efek anabolik proteinnya, menyebabkan peningkatan massa tubuh bebas lemak. Akan tetapi, pengangkutan lemak akibat pengaruh hormon pertumbuhan membutuhkan waktu beberapa jam, sedangkan peningkatan sintesis protein selular akibat pengaruh hormon pertumbuhan dapat dimulai dalam waktu beberapa menit saja.

 Menurunkan kecepatan pemakaian glukosa di seluruh tubuh
Hormon pertumbuhan menyebakan berbagai efek yang memengaruhi metabolisme karbohidrat, meliputi : (1) mengurangi ambilan glukosa di dalam jaringan seperti otot skelet dan lemak, (2) meningkatkan produksi glukosa oleh hati, dan (3) meningkatkan sekresi insulin.
Setiap perubahan ini disebabkan oleh ”resistensi insulin” akibat pengaruh hormon pertumbuhan, yang melemahkan kerja insulin dalam merangsang pengambilan dan pemakaian glukosa di dalam otot skelet dan lemak, dan dalam menghambat glukoneogenesis (produksi glukosa) oleh hati; keadaan ini menyebakan peningkatan konsentrasi glukosa darah dan peningkatan kompensasi insulin. Karena alasan inilah, efek hormon pertumbuhan disebut diabetogenik, dan sekresi hormon pertumbuhan yang berlebihan dapat menimbulkan gangguan metabolik yang sangat mirip dengan gangguan metabolik pada pasien diabetes tipe II (tidak tergantung insulin), yang juga sangat resisten terhadap efek metabolik insulin.

b. Efek pertumbuhan hormon pertumbuhan
Walaupun hormon pertumbuhan merangsang peningkatan timbunan prtotein dan meningkatkan pertumbuhan hampir semua jaringan tubuh, efek hormon pertumbuhan yang paling jelas adalah meningkatkan pertumbuhan struktur rangka. Keadaan ini disebabkan oleh berbagai efek hormon pertumbuhan pada tulang yang meliputi (1) peningkatan timbunan protein oleh sel kondrositik dan sel oseogenik yang menyebabkan pertumbuhan tulang, (2) juga meningkatkan kecepatan reproduksi sel-sel ini, dan (3) efek spesifik dalam mengubah kondrosit menjadi sel osteogenik, sehingga menyebabkan timbunan tulang yang baru.
Ada dua mekanisme utama pertumbuhan pertumbuhan tulang :
1. sebagai respon terhadap rangsangan hormon pertumbuhan, tulang panjang tumbuh secara memanjang pada kartilago epifisisnya, tempat epifisisn dipisahkan dari batang tulang pada bagian ujung tulang. Pertumbuhan ini mula-mula menyebabkab penimbuanan kartilago yang baru, diikti pengubahan kartilago ini menjadi tulang yang baru, sehingga membuat batang tulang semakin panjang dan mendorong epifisis semakin jauh terpisah. Pada waktu yang sama, kartilago epifisis snediri secara berangsur-angsur dipergunakan, sehingga pada usia remaja lanjut, tidak tersedia lagi tambahan kartilago epifisis untuk pertumbuhan tulang panjang lebih lanjut. Pada waktu ini, terjadi penyatuan tulang antara batang tulang dan epifisis pada masing-masing ujungnya, sehingga pemanjangan tulang panjang tidak dapat terjadi lagi.
2. osteoblas di dalam periosteum tulang dan dalam beberapa aktivitas tulang membentuk tulang baru pada permukaan tulang yang lama. Secara bersamaan, osteoklas di dalam tulang meresorpsi tulang yang lama. Bila kecepatan pembentukan lebih besar dari resorpsi, ketebalan tulang akan meningkat. Hormon pertumbuhan dengan kuat merangsang osteoblas. Oleh karena itu, tulang dapat terus menebal sepanjang hidup di bawah pengaruh hormon pertumbuhan; hal ini terjadi terutama pada tulang membranosa. Sebagai contoh, tulang rahang masih dapat dirangsang untuk tumbuh bahkan setelah usia remaja, menyebabkan pipi menonjol ke depan dan merendahkan gigi. Demikian juga, tulang tengkorak dapat bertambah tebal dan membentuk tonjolan tulang di atas mata.

3. Hormon-hormon yang mempengaruhi proses pertumbuhan
a. Hormon pertumbuhan
Hormon pertumbuhan secara langsung merangsang pertumbuhan kartilago dan tulang. Penjelasan ada di normor 2.

b. Insulin
Semakin tinggi kadar insulin dalam darah maka transpor glukosa ke sel semakin tinggi. Hal ini meyebabkan kadar glukosa dalam darah semakin sedikit. Hal menyebakan rasa lapar. Pada saat inilah sekresi hormon pertumbuhan semakin tinggi.

c. Tiroid
Hormon tiroid mempunyai efek yang umum dan efek yang spesifik terhadap pertumbuhan. Contohnya, sebenarnya sudah sejak lama diketahui bahwa hormon tiroid berguna untuk menimbulkan perubahan metamorfosis kecebong menjadi katak.
Pada manusia, efek hormon tiroid terhadap pertumbuhan lebih nyata terutama pada masa pertumbuhan anak-anak. Pada pasien hipotiroidisme, kecepatan pertumbuhan menjadi sangat tertinggal. Pada pasien hipertiroidisme, sering terjadi pertumbuhan tulang yang sangat berlebihan, sehingga anak tadi menjadi lebih tinggi daripada anak lainnya. Akan tetapi, tulang menjadi matang lebih cepat dan pada umur yang muda epifisisnya sudah menutup, sehingga lama pertumbuhan lebih singkat dan tinggi badan akhir semasa dewasa mungkin malahan lebih pendek.
Efek yang penting dari hormon tiroid adalah meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan otak selama kehidupan janin dan beberapa tahun pertama kehidupan pascalahir. Bila janin tidak dapat menyekresi hormon tiroid dalam jumlah cukup, maka pertumbuhan dan pematangan otak sebelum dan sesudah bayi itu dilahirkan akan sangat terbelakang dan otak tetap berukuran lebih kecil daripada normal. Bila tidak diberi pengobatan yang spesifik dengan hormon tiroid selama beberapa hari atau beberapa minggu sesudah dilahirkan, maka anak akan mengalami keterbelakangan mental yang menetap selama hidupnya.

d. Gonadotropin
Hormon gonadotropin berfungsi untuk pematangan fungsi seksual. Apabila hormon ini tidak adekuat jumlahnya, maka anak tidak akan mengalami masa pubertas.

4. Kelainan-sekresi hormon pertumbuhan
a. Panhipopituitarisme
Istilah ini berarti penurunan sekresi hormon hipofisis anterior. Berkurangnya sekresi ini dapat kongenital (timbulnya sejak lahir), atau dapat timbul secara mendadak atau perlahan pada masa kehidupan, paling sering disebabkan oleh tumor hipofisis yang merusak kelenjar hipofisis.

b. Dwarfisme
Sebagian besar dwarfisme disebakan oleh defisiensi sekresi kelnjar hipofisis anterior yang menyeluruh selama masa kanak-kanak. Pada umumnya, pertumbuhan bagian-bagian fisik tubuh sesuai satu sama lainnya, namun kecepatan pertumbuhannnya sangat menurun. Seorang anak yang sudah berumur 10 tahun dapat mempunyai pertumbuhan tubuh seorang anak berumur 4 sampai 5 tahun, sedangkan bila orang yang sama mencapai umur 20 tahun dapat mempunyai pertumbuhan tubuh seorang anak yang berumur 7 sampai 10 tahun.
Pasien dwarfisme panhipopituitarisme tidak melewati masa pubertas dan pasien tersebut tidak pernah dapat menyekresi hormon gonadotropin dalam jumlah yang cukup guna pertumbuhan fungsi seksual dewasa. Akan tetapi, spertiga pasien dwarfisme hanya mengalami defisiensi hormon pertumbuhan saja; pasien seperti ini mengalami pematangan seksual dan adakalanya dapat juga bereproduksi. Pada satu tipe dwarfisme (yakni pada suku pigmi Afrika dan Levi-Lorain dwarf), kecepatan sekresi hormon pertumbuhannya normal atau tinggi, namun pasien mengalami ketidakmampuan herediter untuk membentuk somatostatin C, yang merupakan langkah kunci untuk meningkatkan pertumbuhan melalui hormon pertumbuhan.

c. Gigantisme
Kadangkala, sel asidofilik, sel pembentuk hormon pertumbuhan di kelenjar hipofisis anterior menjadi sangat aktif, dan kadangkala bahkan dapat timbul tumor asidofilik di dalam kelenjar ini. Akibatnya, diproduksi banyak banyak sekali hormon pertumbuhan. Seluruh jaringan tubuh tumbuh dengan cepat sekali, termasuk tulang. Bila keadaan ini terjadi sebelum masa remaja, sebelum epifisis tulang panjang bersatu dengan batang tulang, tinggi badan orang tersebut akan terus meningkat sehingga menjadi seperti raksasa – tinggi badan dapat mencapai 8 kaki.
Biasanya raksasa ini juga menderita hiperglikemi, dan sel-sel beta dalam pulau Langerhans pankreas cenderung berdegenerasi karena sel-sel ini menjadi terlalu aktif akibat hiperglikemi. Akibatnya, kira-kira 10 persen pasien raksasa ini akhirnya benar-benar menderita diabetes melitus.
Pada sebagian besar raksasa ini, pada akhirnya juga akan menderita panhipopituitarisme bila tetap tidak diobati, sebab gigantisme biasanya disebabkan oleh adanya tumor pada kelenjar hipofisis yang tumbuh terus sampai merusak kelenjarnya sendiri. Defisiensi menyeluruh dari hormon pertumbuhan biasanya menyebabkan kematian pada awal masa dewasa. Akan tetapi, begitu gigantisme ini didiagnosis, efek selanjutnya seringkali dapat dihambat dengan membuang tumor dengan membuang tumor melalui bedah mikro atau dengan menyinari kelenjar hipofisis.

d. Akromegali
Bila tumor asidofilik timbul sesudah masa remaja – yakni, sesudah epifisis tulang panjang bersatu dengan batang tulang – maka orang itu tidak dapat tumbuh lebih tinggi lagi; namun tulangnya dapat menjadi lebih tebal dan jaringan lunaknya dapat terus tumbuh. Pembesaran tampak jelas terutama pada tulang-tulang tangan dan kaki serta pada tulang membranosa, termasuk tulang tengkorak, hidung, penonjolan tulang dahi, tepi supraorbita, rahang bagian bawah, dan bagian tulang vertebra, sebab pertumbuhnan tulang-tulang ini tidak terhenti pada masa remaja.

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi sekresi hormon pertumbuhan
Pada keadaan akut, hipoglikemi merupakan perangsang sekresi hormon pertumbuhan yang jauh lebih kuat daripada pengurangan ambilan protein dengan cepat. Sebaliknya, pada keadaan kronis, sekresi hormon pertumbuhan tampaknya lebih berhubungan dengan derajat deplesi protein selular daripada dengan derajat insufisiensi glukosa. Sebagai contoh, sangat tingginya kadar hormon pertumbuhan selama kelaparan sangat erat berhubungan dengan jumlah deplesi protein.
Efek defisiensi protein terhadap kadar hormon pertumbuhan dalam plasma dan efek penambahan protein pada makanan :
i. kadar hormon pertumbuhan yang sangat tinggi pada anak-anak yang mengalami defisiensi protein yang ekstrem selama menderita malnutrisi yang disebut kwasiorkor,
ii. kadar hormon pertumbuhan pada anak-anak yang sama sesudah diberikan pengobatan dengan makanan yang mengandung karbohidrat lebih dari cukup selama 3 hari, yang menunjukkan bahwa karbohidrat tidak menurunkan konsentrasi hormon pertumbuhan dalam plasma.

6. Cara menegakkan diagnosis
a. Anamnesis
Untuk mengetahui bagaimana keadaan keluarga penderita (misal pendek), apakah ada penyakit keturunan dan sebagainya. Juga perlu diketahui bagaimana keadaan penderita waktu lahir yaitu apakah berat badan lahir rendah, kecil untuk masa kehamilannya, normal dan sebagainya.

b. Pemeriksaan fisik
- Pertumbuhan gigi
Untuk pertumbuhan gigi diperlukan hormon. Seorang anak dengan pertumbuhan gigi yang normal sangat mungkin tidak mempunyai kelainan hormonal, sedangkan seorang bayi yang pertumbuhan giginya terlambat mungkin menderita kelainan endokrin.
Gigi pertama tumbuh pada umur 6 – 8 bulan dan lengkap pada umur sekitar 2 tahun. Pada saat itu anak sudah mempunyai 20 buah gigi, 5 pada tiap cuadran. Sejas umur 5 tahun tumbuh gigi hermanen. Gigi geraham permanen pertama tumbuh umur 6 tahun, sehingga pada umur tersebut anak mempunyai 24 buah gigi, 6 pada tiap kuadran. Pada umur 12 tahun gigi geraham permanen kedua tumbuh sehingga anak mempunyai 28 buah gigi, 7 pada tiap kuadran.
Bila pada umur ini gigi anak telah lengkap 28 buah, maka dapat dikatakan anak tidak mungkin tenderita kelainan hormon yang telah berlangsung lama. Seorang anak berumur 14 atau 15 tahun dengan kekurangan gigi geraham mungkin menderita hypopituitarisme, hypothyroidisme atau pubertas yang terlambat.

- Pengukuran
Tinggi badan, span (jarak antara dua ujung tangan yang terbentang), upper-lower ratio (diukur dari simfisis), lingkaran kepala. Ukuran harus dibandingkan dengan usuran anak yang normal.

- Laju pertumbuhan
Bila pertumbuhan kira-kira 4 cm/tahun (normal), maka Sangay mungkin tidak ada gangguan hormonal.

c. Pemeriksaan penunjang
- Bone age
Bila bone age sesuai dengan chronological age, kecuali kemungkinan terdapatnya kelainan hormonal, karena bila ada kelainan hormonal, maka bone age akan terlambat atau terlalu cepat dengan selisih 2 tahun.

- Pemeriksaan hormon
Pemeriksaan khusus hormon-hormon hipofisis yaitu growth hormon, ACTH, FSH, TSH, Prolaktin dan hormon dari lobus posterior. Pada waktu ini di Indonesia Belem semua hormon dapat diperiksa.
Pemeriksaan Klinis Kelainan Klinis
Bone ega
Analisis kromoson stimulating
Hormone (FSH)
Skrining penyakit sistemik
• Darah perifer lengkap
• Laju endap darah
• Albumin, creatinin, Na, K
• analisa gelas darah
• Thyroid Stimulating hormone (TSH)
• dan free T4 Sindron turner
Anemia
Tuberkulosis
Gagal ginjal kronik, renal tabular
Acidosis
Hipertiroid, defisiensivitamin D
Rickers
Hipofosfatemia

Pemeriksaan Klinis Kelainan Klinis
• Kalsium, fosfor, alkalin
• Fosfat
• Urin dan biakan
• GH*/IGH-1** axis
• IGF-1 dan IGFBP-3***
• Tes stimulasi hormon pertumbuhan pencitraan
• Bone survey
• Ultrasonografi kepala
CT scan atau magnetic
resonance imaging (MRI) Rickers
Infeksi saluran kemih
Defisiensi hormon pertumbuhan
Defisiensi hormon pertumbuhan
Skeletal dysplasia
Defek struktural yang
dihubungkan dengan defisiensi
hormon pertumbuhan atau
defisiensi hormon hipofisis
multipel pada bayi
Etiologi defisiensi hormon
pertumbuhan.


7. Penatalaksanaan kasus
Variasi normal perawakan pendek yang tidak memerlukan pengobatan yaitu : 14 - □ Familial short stature,
• Tanda :
– Pertumbuhan selalu di bawah persentil 3
– Kecepatan pertumbuhan normal
– Bone age normal
– Tinggi badan kedua orang tua pendek
– Tinggi akhir di bawah persentil 3
14 - □ Constitutional delay of growth and puberty
– Perlambatan pertumbuhan linier pada tiga tahun pertama kehidupan
– Pertumbuhan linier normal atau hampir normal pada saat prapubertas dan selalu berada di bawah persentil 3
– Bone age terlambat (tetapi masih sesual dengan height age)
– Maturasi seksual terlambat
– Tinggi akhir pada umumnya normal
– Pada umumnya terdapat riwayat pubertas terlambat dalam keluarga

Untuk terapi hormonal
Sebelum terapi dimulai, kriteria anak dengan defisiensi hormon pertumbuhan harus terlebih dahulu ditetapkan sebagai berikut :
– Tinggi badan di bawah persentil 3 atau -2SD
– Kecepatan tumbuh di bawah persentil 25
– Bone age terlambat > 2 tahun
– Kadar GH < 7 ng/ml dengan 2 jenis uji provokasi
– IGF – I rendah
– Tidak ada kelainan dismorfik, tulang dan sindrom tertentu
– Di samping terapi untuk anak dengan defisiensi hormon pertumbuhan hormon pertumbuhan diberikan juga untuk anak dengan sindrom Turner, anak dengan IUGR (intra uterine growth retardation), gagal ginjal kronik, dan sindrom Prader Willi.
– Hormon pertumbuhan diberikan secara subkutan dengan dosis 0,05U/kg/hari untuk defisiensi hormon pertumbuhan dan 0,08 mg/kg/hari untuk sindrom Turner dan insufisiensi renal kronik
– Hormon pertumbuhan diberikan 6 kali per minggu

Terapi hormon dihentikan bila lempeng epifisis telah menutup atau respon terapi tidak adekuat. Ciri respon terapi yang tidak adekuat adalah pertambahan kecepatan pertumbuhan yang lebih kecil dari 2 cm per tahun.





E. STEP V
Learning Objective

1. Penggolongan hormone secara biokimia
2. Kaitan H. Insulin, GH, Tiroid, Gonad dalam proses pertumbuhan
3. Kadar GH dalam darah
4. Fisiologi GH
5. Penatalaksanaan defisiensi hormon
6. Penegakkan diagnosa























F. STEP VI
Belajar Mandiri

Guyton, A.C.dan John E.H.2006.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.EGC.Jakarta.

Wahidiyat,dkk.2007.Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan Anak.FK UI.Jakarta.

http://one.indoskripsi.com/node/9135

http://pengobatan-alternatif.com/biospray_hormon_pertumbuhan.php






















F. STEP VII
Laporan Hasil Belajar Mandiri

1. Penggolongan hormon secara biokimia
Terdapat tiga golongan umum hormon:
• Protein dan polipeptida, mencakup hormon-hormon yang disekresikan oleh kelenjar hipofisis anterior dan posterior, pankreas (insulin dan glukagon), kelenjar paratiroid (hormon paratiroid) dan banyak hormon lainnya
• Steroid yang disekresikan korteks adsrenal(kortisol dan aldosteron), ovrium (estrogen dan progesteron), testis (testosteron), dan plasenta
• Turunan asam amino tirosin yang disekresikan oleh kelenjar tiroid (tiroksin dan triidotironin) dan medu la adrenal (epinefrin dan norepinefrin).

Reseptor hormon dan aktivasinya
Langkah pertama kerja suatu hormon adalah pengikatan hiormon pad a reseptor spesifik di sel target. Sel yang tidak memiliki reseptor untuk hormon tersebut tidak akan berespons. Reseptor untuk beberapa hormon terletak pada membran sel target, sedangkan reseptor hormon yang lain terletak di sitoplasma atau nukleus. Ketika hormon terikat pada reseptornya, hal tersebut biasanya akan menginisiasi serangkain reaksi di dalam sel, dengan setiap ta hap reaksi yang semakin teraktivasi sehingga sejumlah kecil konsentrasi hormon bahkan dapat mempunyai pengaruh yang besar.
Reseptor hormon mempunyai protein berukuran besar, dan setiap sel yang distimulasi biasanya memiliki sekitar 2.000 sampai 100.000 reseptor . setiap reseptor juga sangat spesifik untuk sebuah hormon; hal ini menentukan jenis hormon yang akakn bekerja pada jaringan tertentu. Jaringan target yang dipengaruhi oleh suatu hormon adalah jaringan yang memiliki redseptor spesifiknya. Lokasi berbagai jenis reseptor hormon secara garis besar adalah sebagai berikut:
 Di dalam permukaan atau pada permukaan membran sel. Reseptor membran sebagian besar spesifik untuk protein, peptida, dasn hormon katekolamin.
 Di dalam sitoplasma sel. Reseptor utama untuk berbagai hormon steroid terutama ditemukan dalam sitoplasama
 Di dalam nukleus sel. Reseptor untuk hormon tiroid dujumpai di nukleus dan lokasinya diyakini berhubungan dengan erat dengan satu atau lebih kromosom

2. Kaitan H. Insulin, GH, Tiroid, Gonad dalam proses pertumbuhan
 Kaitan Hormon Insulin dan Hormon pertumbuhan:
Aktivitas insulin yang adekuat dan ketersediaan karbohidrat dalam jumlah yang cukup diperlukan agar kerja hormon pertumbuhan menjadi efektif. Sebagian dari kebutuhan karbohidrat dan insulin ini adalh untuk menyediakan energi yang dibutuhkan untuk metabolisme pertumbuhan, tapi dampaknya ada efek yang lain juga. Yang khususnya penting adalah kemampuan insulin untuk meningkatkan pengangkutan beberapa asam amino ke dalam sel dengan cara yang sama seperti insulin meningkatkan pemakaian glukosa
 Kaitan hormon tiroid dalam proses pertumbuhan:
Efek yang penting dari hormon tiroid adalah meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan otak selama kehidupan janin dan beberapa tahun pertama kehidupan pascalahir. Pada pasien hipotiroidisme kecepatan pertumbuhan menjadi sangat tertinggal. Pada pasien hipertiroidisme, seringkali terjadi pertumbuhan tulang yang sangat berlebihan sehingga anak menjadi lebih tinggi dari anak lainnya. Akan tetapi, tulang juga menjadi matang lebih cepat dan pada umur yang muda epifisnya sudah menutup, sehinga lama pertumbuhan lebih singkat dan tinggi badan akhir semasa dewasa mungkin malahan lebih pendek.
 Kaitan hormon gonad dalam proses pertumbuhan:
o Pada pria: testosteron meningkatkan jumlah total matriks tulang dan menyebabkan retensi kalsium. Penningkatan matriks tulang diyakini akibat dari fungsi anabolik protein umum testosteron dan pengendapan garam-garam kalsium sebagai respons terhadap peningkatan protein
o Pada wanita:estrogen menghambat aktivitas osteoklastik di dalam tulang sehingga merangsang pertumbuhan tulang. Pada saat pubertas, ketika wanita masuk ke masa reproduksi, laju pertumbuan tinggi badannya menjadi cepat selama beberapa tahun. Akan tetapi, estrogen juga mempunyai efek poten lainnya terhadap pertumbuha tulang rangka:estrogen menyebabkan terjadinya penggabungan awal epifisis denagn batang tulang panajang. Efek estrogen ini lebih kuat dibandingkan dengan efek serupa dari testosteron pada pria. Sebagai akibatnya pertumbuhan wanita biasanya terhenti beberapa tahun lebih cepat daripada pertumbuhan pria.



3. Kadar GH dalam darah
Pengaruh fisik dan fisiologi hormon pertumbuhan seiring bertambahnya usia adalh meningkatnya pengerutan kulit, menurunnya kecepatan fungsi beberapa organ, dan berkurangnya masa dan kekuatan otot. Sejalan dengan bertambah tuanya seseorang konsentrasi hormon pertumbuhan plasma rata-rata berubah kira-kira sebagai berikut:
Usia Konsentrasi(ng/ml)
5-20 th 6
20-40 th 3
40-70 th 1,6


4. Fisiologi GH
Selain dari efek hormon pertumbuhan yang menyebabkan pertumbuhan. Hormon pertumbuhan mempunyai banyak efek metabolik khusus lain, yang meliputi :
• Peningkatan kecepatan sintesis protein diseluruh sel-sel tubuh
• Meningkatkan mobilisasi asam lemak dari jaringan adiposa, meningkatkan asam lemak bebas dalam darah, dan meningkatkan penggunaan asam lemak untuk energi
• Menurunkan kecepatan pemakaian glukosa diseluruh tubuh
Jadi, secara singkat efek metabolik hormon pertumbuhan adalah meningkatkan protein tubuh, menggunakan lemak dari tempat penyimpanannya, dan menghemat karbohidrat.
Peran Hormon Pertumbuhan dalam Meningkatkan Penyimpanan Protein
1. Bertambahnya pengangkutan asam amino melewati membran sel. Hormon pertumbuhan secara langsung meningkatkan pengangkutan paling sedikit beberapa dan mungkin sebagian besar asam amino melewati membran sel ke bagian dalam sel. Keadaan ini meningkatkan konsentrasi asam amino di dalam sel dan paling tidak berperan sebagian terhadap naiknya sintesis protein.
2. Peningkatan transkripsi inti DNA untuk membentuk RNA. Hormon pertumbuhan juga merangsang transkripsi DNA di dalam inti, sehingga meningkatkan jumlah pembentukan RNA. Keadaan ini selanjutnya meningkatkan sintesis protein dan juga meningkatkan pertumbuhan bila energi, asam amino, vitamin, dan bahan-bahan lain cukup tersedia.
3. Penurunan katabolisme protein dan asam amino. Karena terjadi pengangkutan asam lemak yang banyak dan digunakan sebagai sumber energi
Peran Hormon Pertumbuhan dalam Meningkatkan Pemakaian Lemak sebagai Energi
Hormon pertumbuhan mempunyai efek yang spesifik dalam menyebabkan pelepasan asam lemak dari jaringan adiposa sehingga meningkatkan konsentrasi asam lemak dalam cairan tubuh. Selain itu, di dalam jaringan di seluruh tubuh, hormon pertumbuhan meningkatkan perubahan asam lemak menjadi asetil-KoA dan kemudian digunakan untuk energi. Oleh karena itu, di bawah pengaruh hormon pertumbuhan ini, lebih disukai lemak sebagai energi daripada karbohidrat dan protein.
Dibawah pengaruh jumlah hormon pertumbuhan yang berlebihan, pengangkutan lemak dari jaringan adiposa seringkali menjadi sangat besar sehingga sejumlah besar asam asetoasetat dibentuk di hati dan dilepaskan kedalam cairan tubuh, dengan demikian menyebabkan ketosis. Pergerakan lemak yang berlebihan dari jaringan adiposa juga dapat menyebabkan perlemakan hati.
Efek Hormon Pertumbuhan terhadap Metabolisme Karbohidrat
Hormon pertumbuhan mempunyai empat pengaruh utama terhadap metabolisme glukosa dalam sel, yaitu:
1. Penurunan pemakaian glukosa untuk energi. Berkurangnya pemakaian mungkin sebagian disebabkan oleh meningkatnya pengangkutan dan penggunaan asam lemak untuk mendapatkan energi yang disebabkan pengaruh hormon pertumbuhan. Jadi, asam lemak membentuk banyak sekali asetil-KoA yang sebaliknya memicu timbulnya efek umpan balik yang menghambat pemecahan glikolitik dari glukosa dan glikogen.
2. Peningkatan endapan glikogen di dalam sel. Bila terdapat kelebihan, hormon pertumbuhan, makan glukosa dan glikogen tidak dapat digunakan sebagai hasil energi sehingga glukosa yang masuk ke dalam sel dengan cepat dipolimerisasi menjadi glikogen dan selanjutnya diendapkan. Oleh karena itu, sel sangat cepat menjadi jenuh oleh glikogen dan tidak dapat glikogen lebih banyak.
3. Berkurangnya ambilan glukosa oleh sel dan meningkatnya konsentrasi glukosa darah. Hal ini mungkin terjadi karena sel itu sudah menyerap glukosa yang berlebihan yang sudah sulit digunakan. Tanpa ambilan dan penggunaan oleh sel secara normal, konsentrasi glukosa darah sering meningkat sampai 50 persen atau lebih diatas normal dan keadaan ini disebut dengan diabetes hipofisis. Diabetes ini adalah diabetes yang tidak peka terhadap insulin.
4. Peningkatan sekresi insulin, yang merupakan efek diabetogenik dari hormon pertumbuhan. Peningkatan konsentrasi glukosa darah disebabkan oleh rangsangan hormon pertumbuhan terhadap sel-sel beta pulau Langerhans untuk mensekresikan insulin tambahan. Selain itu, hormon pertumbuhan mempunyai efek perangsangan langsung pada sel. Gabungan dari kedua efek tersebut seringkali sangat merangsang insulin oleh sel-sel beta sehingga sel-sel beta tersebut sesungguhnya ”mati”. Bila hal ini terjadi, timbul diabetes melitus. Oleh karena itu, hormon pertumbuhan dikatakan mempunyai efek diabetogenik.
SOMATOMEDIN
Efek hormon pertumbuhan pada pertumbuhan, tulang rawan dan metabolisme protein bergantung pada interaksi antara hormon pertumbuhan dan somatomedin, yang merupaka faktor pertumbuhan polipeptida yang disekresikan oleh hati dan jaringan lain.
Somatomedin utama dalam darah adalah insulin-like growth factor I (IGF-I, somatomedin C) dan insulin-like growth factor II (IGF-II). Faktor-faktor ini berkaitan dengan insulin, kecuali rantai C-nya tidak terpisah dan memiliki perluasan rantai A yang disebut domain D. pada manusia, ditemukan bentuk varian IGF-I yang tidak memiliki tiga residu asam amino terminal-amino di otak. mRNA untuk IGF-I dan IGF-II ditemukan di hati, tulang rawan, dan banyak jaringan lain, yang menunjukan bahwa molekul-molekul tersebut disintesis dari jaringan tersebut.
Keduanya berikatan erat dengan protein dalam plasma sehingga memperpanjang waktu paruh IGF dalm sirkulasi. Saat ini telah teridentifikasi enam protein pengikat-IGF yang berbeda-beda, dengan pola distribusi di berbagai jaringan yang berlainan pula. Semua ditemukan dalam plasma, dengan protein pengikat-IGF 3 (IGFBP-3) berperan pada 95% pengikatan dalam sirkulasi. Reseptor IGF-I sangat mirip dengan reseptor insulin dan mungkin menggunakan banyak perangkat intrasel yang sama. Reseptor IGF-II adalah suatu reseptor manosa-6-fosfat yang berperan dalam membawa hidrolase asam dan protein intrasel lain ke organel-organel intrasel. Sekresi IGF-I sebelum lahir tidak tergantung pada hormon pertumbuhan tetapi setelah lahir dirangsang oleh hormon pertumbuhan, dan molekul ini memiliki efek kuat menstimulasi pertumbuhan. Konsentrasi dalam plasma meningkat selama masa kanak-kanak dan memuncak pada masa pubertas, kemudian turun ke kadar yang rendah pada saat usia lanjut. Pada orang dewasa, gen untuk IGF-II diekspresikan hanya pada pleksus koroideus dan meningen.
Hormon pertumbuhan berlekatan secara lemah dengan protein plasma dalam darah. Oleh karena itu, hormon pertumbuhan dilepaskan dari darah kedalam jaringan dengan cepat, dengan waktu paruh di dalam darah sekita 20 menit. Sebaliknya, somatomedin C (IGF-I) melekat dengan kuat pada satu protein pembawa di dalam darah yang diproduksi sendiri responnya terhadap hormon pertumbuhan. Akibatnya, somatomedin C dilepaskan dengan lambat dari darah ke jaringan dengan waktu paruh kira-kira 20 jam.
5. Penatalaksanaan defisiensi hormon
Terapi
a)Kausal
Pada tumor biasanya dilakukan radiasi (dengan X-ray atau kobalt) jika tidak terdapat kelainan visus. Jika gejala-gejala tekanan dari tumor progresif maka dipertimbangkan operasi.
b)Simptomatis
Pengobatan medikamentosa yang terbaik untuk panhipopituitarisme adalah terapi substitusi atau replacement therapy. Biasanya diberi:
Hidrokortison antara 20-30mgr per hari. Yang diberi bukan prednisone atau deksametason karena preparat-preparat ini tidak cukup menyebabkan retensi garam dan air.
Tiroksin atau pulvus tiroid. Harus hati-hati karena penderita sangat peka terhadap obat-obat ini.
Testosteron pada pria dalam bentuk metiltestosteron 10-20 mgr per hari. Jangan diberi dalam waktu terlalu lama karena bisa menyebabkan kerusakan hepar.
Estrogen (stilbestrol) untuk wanita. Estrogen lebih baik diberikan secara siklus agar siklus menstruasi tetap bisa dipertahankan dan ini baik sekali untuk psikhe pasien. Wanita bisa pula diberi androgen tetapi dalam dosis separoh dari pria. Harus dihentikan jika timbul gejala-gejala virilisasi.

6. Penegakkan diagnosa
Untuk menentukan apakah ada suatu kelainan endokrin atau tidak harus dilakukan penilaian klinis, yaitu:
1. Anamnesis
Untuk mengetahui bagaimana keadaan keluarga penderita, apakah ada penyakit keturnunan dan sebagainya. Njuga perlu diketahui bagaimana keadaan penderita waktu lahir yaitu apakah berat badan lahir rendah, kecil untuk masa kehamilannya , normal dan sebgainya.
2. Pertumbuhan gigi
Untuk pertumbuhan gigi diperlukan hormon, seorang anak dengan pertumbuhan gigi yang normal sangat mungkin tidak mempunyai kelainan hormonal, sedangkan seorang bayi yang pertumbuhan giginya terhambat mungkin menderita kelainan endokrin.
Gigi pertama tumbuh pada umur 6-8 bulan dan lengkap pada umur sekitar 2 tahun. Pada saat itu anak sudah mempunyai 20 buah gigi. 5 pada tiap kuadran. Sejak umur 5 tahun timbuh gigin permanen. Gigi gerham permanen pertama tumbuh umur 6 tahun, sehingga pada umur tersebut anak me punyai 24 buah gigi, 6 pada tiap kuadran. Pada umur 12 tahun gigi geraham permanen kedua tumbuh sehingga anak mempunyai 28 buah gigi, 7 pada tiap kuadran. Bila pada umur ini gigi anak telah lengkap 28 buah, maka dapat dikatakan anak tidak mungkin menderita kelainan hormonn yang telah berlangsung lama. Seorang anak berumur 14 atau 15 tahun dengan kekurangan gigi geraham mungkin menderita hipopituitarisme, hipotiroidisme atau pubertas yang terlambat.
3. Pengukuran
Tinggi badan, span(jarak antara dua ujung tangan yang terbentang), upper-lower ratio(diukur darei simfisis), lingkaran kepala. Ukuran harus dibandingkan dengan ukuran anak yang normal
4. Laju pertumbuhan
Bila pertumbuhan kira-kira 4cm/tahun (normal), maka sangat mungkin tidak ada gangguan hormonal.
5. Pemeriksaan khusus
 Bone age
Bila bone age sesuai dengan chrinological age kecuali kemungkinan terdapatnya kelainan hormonal,
 Pemeriksaan hormon
Pemeriksaan khusus hormon-hormon hipofisis yaitu growth hormon, ACTH, FSH, TSH, Prolaktin dan hormon dari lobus posterior. Saat ini di Indonesia belum semua hormon dapat diperiksa.









KESIMPULAN

Pertumbuhan seorang anak dipengaruhi oleh kadar hormon pertumbuhan yang disekresikan oleh kelenjar hipofisis anterior. Kelainan sekresi hormon pertumbuhan dapat menagkibatkan panhipofituitarisme, dwarfisme, gigantisme, dan akromegali. Perawakan pendek dapat dibagi menjadi 2, yaitu variasi normal dan karena kelainan patologis. Perawakan pendek variasi normal dapat diobati dengan memberikan hormon pertumbuhan secara eksogen, sedangkan karena kelainan patologis dapat diobati berdasarkan penyebab.























DAFTAR PUSTAKA

Guyton, A.C.dan John E.H.2006.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.EGC.Jakarta.

Wahidiyat,dkk.2007.Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan Anak.FK UI.Jakarta.

http://one.indoskripsi.com/node/9135

http://pengobatan-alternatif.com/biospray_hormon_pertumbuhan.php

TUMBUH KEMBANG ANAK

HASIL DISKUSI

A. STEP 1
Kasus 2. Keterlambatan Tumbuh Kembang Anak
Seorang dokter yang sedang melakukan kunjungan ke posyandu Melati menemukan seorang anak berusia 3 tahun terlihat kurus, rambut pirang, dan kulit keriput. Ibunya mengatakan bahwa anaknya belum dapat berjalan, cengeng/rewel serta belum dapat melakukan aktivitas anak seusianya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan :
- Rambut pirang, mudah dicabut, mata cekung, kulit keriput
- BB 5 kg dan TB 70 cm
- Pergerakan motorik lambat

Terminologi yang Tidak Dimengerti
1. Tumbuh kembang
Tumbuh kembang adalah proses yang berkesinambungan mulai dari konsepsi sampai dewasa.
Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran, atau dimensi tingkat sel, organ, maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh).
Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikan rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan.
Pertumbuhan bersifat quantity (dapat diukur) dan irreversible (tidak dapat kembali ke bentuk semula, sedangkan perkembangan bersifat quality (tidak dapat diukur) dan bersifat reversible (dapat kembali ke bentuk semula).

2. Anak
Dikatakan anak adalah orang yang berusia < 18 tahun, sejak pembuahan sampai akhir masa remaja, dimana selalu tumbuh dan berkembang.

3. Pergerakan motorik
Yaitu pergerakan fisik tubuh. Motorik artinya bergerak.























B. STEP 2
1. Proses tumbuh kembang anak dan tahap-tahap tumbuh kembang anak
2. Ciri-ciri tumbuh kembang anak
3. Pertumbuhan fisik anak
4. Tahap perkembangan mental anak
5. Kebutuhan dasar anak dalam proses tumbuh kembang
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak
7. Kebutuhan dasar nutrisi pada anak
8. Masalah gizi pada anak dan faktor yang mempengaruhinya
9. Parameter yang digunakan untuk mengukur perkembangan anak balita dan perkembangan fisik
10. Aspek-aspek perkembangan pada anak
11. Gangguan pada fase pertumbuhan
12. Sistem imun anak
13. Imunisasi pada anak

















C. STEP 3 & 4

1. Proses tumbuh kembang anak :

DIAGRAM KERANGKA KONSEPTUAL PROSES TUMBUH KEMBANG ANAK








Tahap-tahap tumbuh kembang anak :
• Masa pranatal
- masa mudigah/embrio : konsepsi - 8 minggu
- masa janin/janin : 9 minggu – lahir






• Masa bayi : usia 0-1 tahun
- masa neonatal : usia 0-28 hari
o masa neonatal dini : 0-7 hari
o masa neonatal lanjut : 8-28 hari
- masa pasca neonatal : 29-1 tahun
• masa pra-sekolah : usia 1-6 tahun
• masa sekolah : usia 6-18/20
- masa pra remaja : usia 6-10 tahun
- masa remaja :
o masa remaja dini : a) wanita (8-13 tahun)
b) pria (10-15 tahun)
o masa remaja lanjut : a) wanita (13-18 tahun)
b) pria (15-20 tahun)


2. Ciri-ciri tumbuh kembang anak
Tumbuh kembang anak yang sudah dimulai sejak konsepsi sampai dewasa itu mempunyai ciri-ciri tersendiri, yaitu:
1. Tumbuh kembang adalah proses yang kontinu sejak dari konsepsi sampai maturitas/dewasa, yang dipengaruhi oleh factor bawaan dan lingkungan. Ini berarti bahwa tumbuh kembang sudah terjadi sejak di dalam kandungan dan setelah kelahiran merupakan suatu masa dimana mulai saat itu tumbuh kembang anak dapat dengan mudah diamati.
2. Dalam periode tertentu terdapat adanya masa percepatan atau masa perlambatan, serta laju tumbuh kembang yang berlainan diantara organ-organ. Terdapat 3 periode pertumbuhan cepat adalah pada masa janin, masa bayi 0 – 1 tahun, dan masa pubertas. Sedangkan pertumbuhan organ-organ tubuh mengikuti 4 pola, yaitu pola umum, limfoid, neural, dan reproduksi.
3. Pola perkembangan anak adalah sama pada semua anak, tetapi kecepatannya berbeda antara anak satu dengan lainnya.
Contoh, anak akan belajar duduk sebelum belajar berjalan, tetapi umur saat anak belajar duduk/berjalan berbeda antara anak satu dengan lainnya.
4. Perkembangan erat hubungannya dengan maturisasi sistem susunan saraf.
Contoh, tidak ada latihan yang dapat menyebabkan anak dapat berjalan sampai sistem saraf siap untuk itu, tetapi tidak adanya kesempatan praktik akan menghambat kemampuan ini.
5. Aktivitas seluruh tubuh diganti respons individu yang khas.
Contoh, bayi akan menggerakkan seluruh tubuhnya, tangan, dan kakinya kalau melihat sesuatu yang menarik, tetapi pada anak yang lebih besar reaksinya hanya tertawa atau meraih benda tersebut.
6. Arah perkembangan anak adalah sefalokaudal.
Langkah pertama sebelum berjalan adalah perkembangan menegakkan kepala.
7. Refleks primitif seperti refleks memegang dan berjalan akan menghilang sebelum gerakan volunter tercapai.



Setiap anak adalah individu yang unik, karena faktor bawaan dan lingkungan yang berbeda, maka pertumbuhan dan pencapaian kemampuan perkembangannya juga berbeda, tetapi tetap akan menuruti patokan umum. Sehingga diperlukan kriteria sampai seberapa jauh keunikan seorang anak tersebut, apakah masih dalam batas-batas normal atau tidak. Dikenal normal dalam arti medis dan normal dalam arti statistik. Yang dimaksud normal dalam arti medis yaitu apabila pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun intelek dan kepribadian berlangsung harmonis yang meningkat dan dapat diramalkan kecepatan serta hasil akhirnya, sesuai dengan kemampuan genetik/bawaannya. Sedangkan yang dimaksud normal dalam arti statistik adalah apabila anak tersebut berada dalam batas 2 SD dibawah atau diatas mean kurva sebaran normal menurut Gauss, dimana seorang anak dibandingkan dengan anak sebayanya. Jadi mungkin saja seorang anak termasuk abnormal dalam arti statistik tetapi sesungguhnya masih normal dalam arti medis, misalnya anak dari keluarga yang bertubuh kecil.

Ciri pertumbuhan anak:
1. Perubahan ukuran, misal perubahan ukuran lingkar kepala.
2. Perubahan proporsi, misal pengecilan kepala.
3. Hilangnya ciri2 lama, misal hilangnya tonsil dan refleks-refleks primitif.
4. Timbulnya ciri-ciri baru, misal gigi susu menjadi gigi permanen.



Perkembangan merupakan sederetan perubahan fungsi organ tubuh yang
berkelanjutan, teratur dan saling berkait.

Perkembangan terjadi secara simultan dengan pertumbuhan.

Perkembangan anak merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya, antara lain meliputi perkembangan neuromuskular, bicara, emosi dan sosial


3. Pertumbuhan fisik pada anak :

1. Pertumbuhan janin intrauterin
Pada masa embrio yaitu 8 minggu pertama kehamilan, sel telur yang telah dibuahi berdiferensiasi secara cepat menjadi organisme yang mempunyai bentuk anatomis seperti manusia.pada sistem-sistem tertentu organogenesis diteruskan sampai lebih dari 8 minggu.
Mortalitas pada masa embrio ini tinggi, yang disebabkan oleh abnormalitas dari gen/kromosom dan gangguan kesehatan ibu.makin tua umur ibu merupakan predisposisi kelainan kromosom.sedangkan infeksi pada ibu yang terutama disebabkan oleh TORCH yang terjadi pada trimester 1 kehamilan sering menyebabkan kelainan bawaan.
Pada masa janin yaitu pada kehamilan 9-40 minggu pertumbuhan berjalan cepat dan mulai berfungsinya organ-organ.mortalitas pada masa janin terejadi akibat gangguan oksigenasi, infeksi, trauma, radiasi, bahan kimia, gizi ibu, dan imunitas.
Pada janin umur 8 minggu beratnya hanya 1 gram dengan panjangnya 2,5 cm. pada 12 minggu beratnya 14 gram dan panjangnya 7,5 cm.jenis kelamin bias dikenali pada akhir trimester 1.pada kehamilan 16 minggu berat janin 100 gram dan panjangnya 17.pada umur kehamilan 20 minggu berat janin 500 gram,28 minggu 1000 gram dan panjangnya 35 cm,8 bulan 1500 gram,dan 9 bulan/pada waktu dilahirkan rata-rata berat bayi 3200 gram,panjang badan 50 cm,dan lingkar kepala 34 cm.pertumbuhan janin yang pesat pada trimester 111 kehamilan ini adalah sebagai akibat dari bertambahnya jaringan lemak subkutan dan masa otot.

2. Pertumbuhan setelah lahir
a. Berat badan
Kenaikan berat badan anak pada tahun pertama kehidupan, kalau anak mendapat gizi yang baik, adalah berkisar antara :

700-1000 gram/bulan pada triwulan 1
500-600 gram/bulan pada triwulan 2
350-450 gram/bulan pada triwulan 3
250-350 gram/bulan pada triwulan 4

Dapat pula digunakan rumus yang dikutip dari Behrman, 1992 untuk memperkirakan berat badan anak adalah sebagai berikut :
Perkiraan berat badan dalam kilogram
1. Lahir : 3,25 kg
2. 3-12 bulan : Umur (bulan)+9
2
3. 1-6 tahun : Umur (tahun)x2+8
4. 6-12 tahun : Umur (tahun)x7-5
2

b. Tinggi badan
Tinggi badan rata-rata pada waktu lahir adalah 50 cm. Secara garis besar, tinggi badan anak dapat diperkirakan ,sebagai berikut :

1 tahun : 1,5 x TB lahir
4 tahun : 2 x TB lahir
6 tahun : 1,5 x TB setahun
13 tahun : 3 x TB lahir
Dewasa : 3,5 x TB lahir (2 x TB 2 tahun)

Atau digunakan rumus seperti yang dikutip dari Berhman,1992 sebagai berikut :
Perkiraan tinggi badan dalam sentimeter
a. Lahir : 50 cm
b. Umur 1 tahun : 75 cm
c. 2-12 tahun : umur(tahun) x 6 + 77

Rumus prediksi tinggi akhir anak sesuai dengan potensi genetik berdasarkan data tinggi badan orang tua dengan asumsi bahwa semuanya tumbuh optimal sesuai dengan potensinya , adalah sebagai berikut :
TB anak perempuan = (TB ayah – 13 cm) + TB ibu ± 8,5 cm
2

TB anak laki-laki = (TB ibu + 13 cm) + TB ayah ± 8,5 cm
2

c. Kepala
Lingkar kepala pada waktu lahir rata-rata 34 cm dan besarnya lingkar kepala ini lebih besar dari lingkar dada. Pada anak umur 6 bulan lingkar kepala rata-ratanya adalah 44 cm, umur 1 tahun 47 cm, 2 tahun 49 cm, dan dewasa 54 cm.









Perkembangan sel-sel jaringan otak pada sejak neonatus:







d. Gigi
Gigi pertama tumbuh pada umur 5-9 bulan, pada umur 1 tahun sebagian besar anak mempunyai 6-8 gigi susu. Selama tahun kedua gigi tumbuh lagi 8 biji, sehingga jumlah seluruhnya 14-16 gigi. Dan pada umur 2 1/2 tahun sudah terdapat 20 gigi susu.

e. Jaringan Lemak
Pertambahan jumlah sel lemak meningkat pada trimestre III kehamilan sampai pertengahan masa bayi. Pertumbuhan jeringan lemak melambat sampai anak berumur 6 tahun, anak kelihatan kurus/langsing. Jeringan lemak bertambah lagi pada anak perempuan umur 8 tahun dan pada anak laki-laki umur 10 tahun sampai menjelang awal pubertas.

4. Tahap-tahap perkembangan mental pada anak :
PERKEMBANGAN MENTAL

GERAKAN – GERAKAN KASAR & HALUS, EMOSI, SOSIAL, PERILAKU, BICARA



Perkembangan anak balita :
- Sangat penting sebagai dasar untuk perkembangan selanjutnya yakni prasekolah, sekolah, akil balik dan remaja
- Untuk perkembangan yang baik dibutuhkan :
1. Kesehatan & gizi yang baik daripada ibu hamil,bayi dan anak persekolah
2. Stimulasi/rangsangan yang cukup dalam kualitas dan kuantitas
- Keluarga dan KIA-KB mempunyai peran yang penting dalam pembinaan fisik,mental sosial anak balita

Dari lahir sampai 3 bulan :
- belajar mengangkat kepala
- belajar mengikuti obyek denganmatanya
- melihat kemuka orang dengan tersenyum
- bereaksi terhadap suara/bunyi
- mengenal ibunya dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, dan kontak.
- Menahan barang yang dipegangnya
- Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh

Dari 3 sampai 6 bulan :
- mengangkat kepala 90 derajat dan mengangkat dada dengan bertopang tangan
- mulai belajar meraih benda-benda yang ada dalam jangkauannya atau diluar jangkauannya
- menaruh benda-benda di mulutnya
- berusaha memperluas lapangan pandangan
- tertawa dan menjerit karena gembira bila diajak bermain
- mulai berusaha mencari benda-benda yang hilang

Dari 6 sampai 9 bulan :
- dapat duduk tanpa dibantu
- dapat tengkurep dan berbalik sendiri
- dapat merangkak meraih benda atau mendekati seseorang
- memindahkan benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk
- bergembira dengan melempar benda-benda
- mengeluarkan kata-kata yang tanpa arti
- mengenal muka anggota-anggota keluarga dan takut kepada orang asing/lain
- mulai berpartisipasi dalam permainan tepuk tangan dan sembunyi-sembunyian


Dari 9 sampai 12 bulan :
- dapat berdiri sendiri tanpa dibantu
- dapat berjalan dengan dituntun
- menirukan suara
- mengulang bunyi yang didengarnya
- belajar menyatakan satu atau dua kata
- mengerti perintah sederhana atau larangan
- memperlihatkan minat yang besar dalam mengekspolarasi sekitarnya, ingin menyentuh apa saja dan memasukkan benda-benda ke mulutnya
- berpartisipasi dalam permainan

Dari 12 sampai 18 bulan :
- berjalan dan mengeksplorasi rumah serta sekeliling rumah
- menyusun 2 atau 3 kotak
- dapat mengatakan 5-10 kata
- memperlihatkan rasa cemburu dan rasa bersaing

Dari 18 ssampai 24 bulan :
- naik turun tangga
- menyusun 6 kotak
- menunjuk mata dan hidungnya
- menyusun dua kata
- belajar makan sendiri
- menggambar garis di kertas atau pasir
- mulai belajar mengontrol buang air besar dan buang air kecil/kencing
- menaruh minat kepada apa yang dikerjakan oleh orang-orang yang lebih besar
- memperlihatkan minat kepada anak lain dan bermain-main dengan mereka

Dari 2 sampai 3 tahun :
- belajar meloncat, memanjat,melompat dengan satu kaki
- membuat jembatan dengan 3 kotak
- mampu menyusun kalimat
- mempergunakan kata-kata saya, bertanya, menegrti kata-kata yang ditujukan kepadanya
- menggambar lingkaran
- bermain bersama dengan anak lain dan menyadari adanya lingkungan lain di luar keluarganya

Dari 3 sampai 4 tahun :
- berjalan-jalan sendiri mengunjungi tetangga
- berjalan pada jari kaki
- belajar berpakaian dan membuka pakaian sendiri]
- menggambar garis silang
- menggambar orang hanya kepala dan badan
- mengenal 2 atau 3 warna
- bicara dengan baik
- menyebut namanya,jenis kelamin dan umurnya
- banyak bertanya
- bertanya bagaimana anak dilahirkan
- mengenal sisi atas,sisi bawah, sisi muka, sisi belakang
- mendengarkan cerita-cerita
- bermain dengan anak lain
- menunjukkan rasa sayang kepada saudara-saudaranya
- dapat melaksanakan tugas-tugas sederhana

Dari 4 sampai 5 tahun :
- melompat dan menari
- menggambar orang terdiri dari kepala,lengan, badan
- menggambar segi empat dan segi tiga
- pandai bicara
- dapat menghitung jari-jarinya
- dapat menyebut hari-hari dalam seminggu
- mendengar dan mengulang hal-hal penting dan cerita
- minat kepada kata baru dan artinya
- memprotes bila dilarang apa yang diinginkannya
- menegnal 4 warna
- memperkirakan bentuk dan besarnya benda, membedakan besar dan kecil
- menaruh minat kepada aktivitas orang dewasa












5. Kebutuhan dasar anak
Kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang, secara umum digolongkan menjadi 3 kebutuhan dasar :
a. Kebutuhan fisik-biomedis (”ASUH”)
Meliputi:
- Pangan/gizi merupakan kebutuhan terpenting.
- Perawatan kesehatan dasar, antara lain imunisasi, pemberian ASI, penimbangan bayi/anak yang teratur, pengobatan kalau sakit,dll.
- Papan/pemukiman yang layak.
- Higiene perorangan, sanitasi lingkungan.
- Sandang.
- Kesegaran jasmani, rekreasi
- Dll.

b. Kebutuhan emosi/kasih sayang (”ASIH”)
Pada tahun-tahun pertama kehidupan, hubungan yang erat, mesra dan selaras antara ibu/pengganti ibu dengan anak merupakan syarat mutlak untuk menjamin tumbuh kembang yang selaras baik fisik, mental maupun psikososial. Berperannya dan kehadiran ibu/penggantinya sedini dan selanggeng mungkin, akan menjalin rasa aman bagi bayinya. Ini diwujudkan dengan kontak fisik (kulit/mata) dan psikis sedini mungkin, misalnya dengan menyusui bayi secepat mungkin segera setelah lahir. Kekurangan kasih sayang ibu pada tahun-tahun pertama kehidupan mempunyai dampak negatif pada tumbuh kembang anak baik fisik, mental maupun sosial emosi, yang disebut ”Sindom Deprivasi Maternal”.
Kasih sayang dari orang tuanya (ayah-ibu) akan menciptakan ikatan yang erat (bonding) dan kepercayaan dasar (basic trust).

c. Kebutuhan akan stimulasi mental (”ASAH”)
Stimulasi mental merupakan cikal bakal dalam proses belajar (pendidikan dan pelatihan) pada anak. Stimulasi mental (ASAH) ini mengembangkan perkembangan mental psikososial: kecerdasan, keterampilan, kemandirian, kreativitas, agama, kepribadian, moral-etika, produktivitas, dan sebagainya.


6. Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak :
Ada beberapa pendapat yang mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. Soetjiningsih (1995) mengemukakan ada 2 faktor utama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan (faktor prenatal dan postnatal).

a) Faktor genetik
Melalui instruksi genetik yang terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan, derajat sensitifitas jaringan terhadap rangsangan umur pubertas, dan berhentinya pertumbuhan tulang. Yang termasuk faktor genetik yaitu berbagai faktor bawaan yang normal dan patologik, jenis kelamin, suku bangsa / bangsa.

b) Faktor lingkungan
Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. Faktor lingkungan dibagi menjadi dua yaitu :
 Faktor lingkungan pranatal :
- Gizi ibu pada waktu hamil
- Mekanis
- Toksin / zat kimia
- Endokrin
- Radiasi
- Infeksi
- Stres
- Imunitas
- Anoksia embrio

 Faktor lingkungan postnatal :
- Lingkungan biologis :
o Ras / suku bangsa
o Jenis kelamin
o Umur
o Gizi
o Perawatan kesehatan
o Kepekaan terhadap penyakit
o Penyakit kronis
o Fungsi metabolisme
o Hormon
- Faktor fisik :
o Cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah
o Sanitasi / kebersihan
o Keadaan rumah (struktur bangunan, ventilasi, cahaya dan kepadatan hunian)
o Radiasi
- Faktor psikososial
o Stimulasi
o Motivasi belajar
o Ganjaran / hukuman yang wajar
o Kelompok sebaya
o Stres
o Sekolah
o Cinta dan kasih sayang
o Kualitas interaksi antara anak dengan orang tua
- Faktor keluarga dan adat istiadat
o Pekerjaan / pendapatan orang tua
o Pendidikan ayah / ibu
o Jumlah saudara
o Jenis kelamin dalam keluarga
o Stabilitas rumah tangga
o Kepribadian ayah / ibu
o Adat istiadat, norma-norma, tabu-tabu
o Agama
o Urbanisasi
o Kehidupan politik dalam masysrakat yang mempengaruhi prioritas kepentingan anak, anggaran.



Unicef (1999) membedakan faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang
anak terdiri dari sebab langsung, sebab tak langsung, dan penyebab dasar :
Sebab langsung meliputi kecukupan pangan dan keadaan kesehatan.
Sebab tidak langsung meliputi ketahanan pangan keluarga, pola asuh anak, pemanfaatan pelayanan kesehatan dan sanitasi lingkungan,
Dengan penyebab dasar struktur ekonomi.

Sinclair. D (1991) menyatakan ada 10 faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan yaitu :
a. Genetik
Faktor genetik dan lingkungan mempengaruhi pertumbuhan. Studi pada anak
kembar menunjukkan bahwa bentuk dan ukuran tubuh, simpanan lemak dan pola
pertumbuhan sangat berkaitan dengan faktor alam daripada pengasuhan. Keturunan tidak hanya mempengaruhi hasil akhir pertumbuhan tetapi juga kecepatan untuk mencapai pertumbuhan sehingga umur radiologi, gigi, seksual, dan saraf dari kembar identik cenderung sama. Sebaliknya pada kembar non identik dapat berbeda. Hal ini menunjukkan adanya komponen genetik yang kuat dalam menentukan bentuk tubuh.

b. Saraf
Pusat pertumbuhan dalam otak adalah hipotalamus yang menjaga anak-anak
untuk bertumbuh mengikuti kurva pertumbuhan normal. Jika terjadi penyimpangan dari kurva pertumbuhan karena kurang gizi atau sakit terjadi periode yang dirangsang untuk mengejar pertumbuhan (catch up growth). Fenomena ini menunjukkan adanya mekanisme pengendalian pusat pertumbuhan dalam hipotalamus yang berinteraksi dengan lobe anterior dari kelenjar pituitari dengan hormon yang mengatur pertumbuhan. Terdapat bukti bahwa sistem saraf periperal juga berperan dalam mengatur pertumbuhan.

c. Hormon
Kelenjar endokrin mempengaruhi pertumbuhan. Kecepatan pertumbuhan
maksimum terjadi pada bulan keempat dimana kelenjar pituitari dan tiroid berperan. Lobe anterior dari kelenjar pituitari menghasilkan polipeptida yang disebut hormon pertumbuhan atau somatotropin. Hal ini dapat dideteksi dalam janin pada akhir bulan kedua segera setelah pituitari terbentuk. Pada anak-anak yang defisiensi somatotropin akan mengalami hambatan pertumbuhan. Somatotropin mengatur kecepatan normal sintesis protein dalam tubuh dan juga menghambat sintesis lemak dan oksidasi karbohidrat. Selain itu somatotropin berperan meningkatkan jumlah sel dalam tubuh dengan menstimulasi pembelahan sel dan pembentukan DNA. Secara khusus somatotropin penting untuk proliferasi sel-sel tulang rawan dari plates epiphyseal yang berdampak besar terhadap panjang badan. Somatotropin berperan melalui intermediasi substansi sekunder yang disebut somatomedin yaitu peptida yang dibentuk dalam hati dan bersirkulasi dalam plasma darah. Somatomedin ini mempunyai efek seperti insulin yang menstimulasi sintesis protein. Lobe anterior kelenjar pituitari juga mensekresi hormon tirotropik yang mempengaruhi pertumbuhan dengan stimulasi kelenjar tiroid untuk sekresi tiroksin dan triiodotironin. Tiroksin dan triiodotironin ini menstimulasi metabolisme umum yang penting dalam pertumbuhan dan kematangan tulang, gigi, dan otak.

d. Gizi
Kebutuhan kalori manusia bervariasi sesuai dengan tahap perkembangan.
Pada tahun pertama bayi membutuhkan kalori 2 kali dibanding pria dewasa dengan aktivitas sedang. Kelaparan juga dapat mengubah komposisi tubuh. Pada saat kelaparan protein dipakai sehingga massa sel tubuh berkurang. Komposisi diet yang cocok untuk pertumbuhan normal adalah suplai protein yang cukup dimana 9 asam amino sangat esensial untuk pertumbuhan dan tidak adanya salah satu asam amino ini akan mengganggu pertumbuhan atau retardasi pertumbuhan. Kekurangan protein adalah faktor utama kwashiorkor dimana terjadi pertumbuhan dan kematangan skeletal yang menurun dan dapat menghambat pubertas. Pada saat ini terjadi pengerutan otot sehingga kulit membengkak dan lemak terakumulasi dalam hati.
Pada orang dewasa BMI 18-20 menunjukkan kelaparan ringan, BMI 16-18 kelaparan sedang, dan BMI <16 kelaparan berat dan memerlukan perawatan rumahsakit. Pada anak-anak usia 1-5 tahun digunakan lingkar lengan atas (LLA).
LLA 16 cm adalah normal, LLA 13,5 cm adalah hampir kelaparan dan LLA <12,5
cm menunjukkan problem serius. Zink berperan dalam sintesis protein dan merupakan komponen enzim tertentu sehingga defisiensi zink menyebabkan kekerdilan (stunted) dan mempengaruhi perkembangan seksual. Iodium dibutuhkan untuk menghasilkan hormon tiroid. Tulang tidak dapat tumbuh secara sempurna tanpa suplai kalsium yang cukup, fosfor, dan komponen anorganik lain seperti magnesium dan mangan. Sekitar 99% dari total kalsium tubuh terdapat dalam tulang dan gigi. Pembentukan tulang diawali dalam embrio dan berlangsung selama hidup. Kalsium berperan dalam mineralisasi tulang, pengenalan sel dan kontraksi otot. Pada anak-anak yang sedang bertumbuh sekitar 180 mg kalsium ditambahkan pada tulang setiap hari, meningkat 400 mg saat remaja. Fluor dibutuhkan untuk pembentukan enamel gigi yang sempurna. Fosfor merupakan komponen enzim, metabolik lain, material genetik (DNA), membran sel, dan tulang yang digunakan dalam mineralisasi tulang. Sekitar 85% dari fosfor tubuh berada dalam tulang. Besi dibutuhkan untuk menghasilkan hemoglobin. Intik besi berkurang pada makanan diet untuk penurunan berat badan sehingga terjadi anemia defisiensi besi. Infestasi parasit seperti cacing mempengaruhi pertumbuhan karena menyebabkan berkurangnya darah dan protein dari dinding usus. Beberapa parasit juga dapat mempengaruhi absorpsi zat gizi. Tulang mengandung 60% dari magnesium tubuh dimana lebih dari 300 enzim menggunakan magnesium dan banyak sel yang menghasilkan energi membutuhkan magnesium untuk berfungsi secara sempurna.
Vitamin A dapat mengendalikan aktivitas osteoblast dan osteoclast. Vitamin A yang terlalu banyak dalam diet dapat menyebabkan pertumbuhan skeletal berkurang. Sebaliknya kekurangan vitamin A menyebabkan cacat dalam proses pembentukan tulang. Vitamin B2 juga berperan dalam pertumbuhan. Defisiensi vitamin C, substansi interseluler tulang dibentuk tidak sempurna dan konstruksi tulang peka terhadap kekurangan kolagen. Defisiensi vitamin D menyebabkan ricket. Vitamin D menstimulasi absorpsi kalsium dari usus halus dan reabsorpsi kalsium oleh ginjal. Jika vitamin D sangat sedikit maka suplai kalsium dan fosfor dalam aliran darah tidak cukup sehingga tulang yang lunak (softened bones) menjadi distorsi dan berat badan menurun. Pengaruh defisiensi oksigen terhadap pertumbuhan disebabkan karena jaringan menerima oksigen yang sangat sedikit untuk metabolisme normal. Selanjutnya cacat jantung kongenital yang tidak disebabkan oleh oksigenasi darah yang kurang tetapi juga oleh gangguan pertumbuhan.

e. Kecenderungan sekuler
Terdapat kecenderungan bahwa anak-anak saat ini tumbuh lebih tinggi dibanding era sebelumnya. Anak-anak usia 5-7 tahun di Amerika dan Eropa Barat meningkat 1,3 cm setiap 10 tahun antara 1880-1950. Kecenderungan sekuler dalam kematangan yang berhubungan dengan kecenderungan sekuler dalam pertumbuhan adalah umur pertama menstruasi. Menstruasi yang terjadi lebih awal di Eropa berkaitan dengan kecukupan gizi yang lebih baik.

f. Status sosial ekonomi
Anak-anak usia 3 tahun dari status ekonomi tinggi di Inggris lebih tinggi 2,5 cm dan lebih tinggi 4,5 cm pada remaja. Faktor ekonomi terlihat kurang penting dibandingkan penyediaan pangan dirumah tangga secara teratur, cukup dan seimbang. Selain itu istirahat dan aktivitas yang cukup. Hal ini merupakan prinsip dasar kesehatan. Besar keluarga juga penting dimana anak pada keluarga dengan anggota keluarga banyak biasanya lebih pendek daripada anak pada keluarga dengan anggota keluarga sedikit. Hal ini dapat disebabkan anak pada keluarga dengan anggota keluarga banyak cenderung mendapat perhatian dan perawatan individu yang minim.

g. Cuaca dan iklim
Pertumbuhan dalam panjang badan lebih cepat 2 – 2,5 kali pada musim semi daripada musim gugur. Sebaliknya pertumbuhan dalam berat badan lebih cepat 4 – 5 kali pada musim gugur daripada musim semi. Adanya pengaruh perbedaan cuaca terhadap pertumbuhan belum diketahui secara pasti diduga disebabkan jumlah penyinaran matahari yang berpotensi menstimulasi setiap jaringan tubuh secara optimal.

h. Tingkat aktivitas
Pada orang dewasa peningkatan ukuran otot dapat terjadi dengan latihan yang terlihat dengan meningkatnya jumlah serat otot. Latihan mampu menurunkan simpanan lemak dan merubah bentuk dan komposisi tubuh. Aktivitas yang rendah merupakan penyebab obesitas pada anak-anak.

i. Penyakit
Dampak penyakit pada anak-anak sama dengan dampak kekurangan gizi. Penyakit-penyakit yang spesifik dengan terganggunya pertumbuhan adalah tuberkulosis, ginjal, cerebral palsi, dan sistik fibrosis. Asma juga menyebabkan hambatan pubertas. Obat-obatan dapat mempunyai efek positif atau negatif terhadap selera, absorpsi, dan metabolisme. Obat-obat yang menstimulasi ekskresi seperti purgatif dan diuretik berdampak pada rendahnya kandungan mineral tubuh seperti potasium. Obat-obat yang berpengaruh terhadap pertumbuhan juga dapat disebabkan terapi steroid jangka panjang. Pengobatan dengan glukokortikoid akan
memperlambat pertumbuhan dan menyebabkan berkurangnya tulang. Secara umum adanya peyakit menyebabkan berkurangnya intik pangan karena selera yang menurun. Selain itu juga menyebabkan berkurangnya sekresi somatotropin sebagai hasil meningkatnya sekresi kartikosteroid dari suprarenal korteks.

j. Cacat lahir
Anak yang lahir dari ibu pecandu alkohol mempunyai karakteristik abnormal dari sindrom alkohol fetal. Konsumsi alkohol sering berhubungan dengan konsumsi tembakau dan terdapat bukti bahwa ibu yang merokok selama hamil menyebabkan BBLR yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Anak usia 7 tahun dari ibu yang merokok lebih dari 10 batang rokok sehari selama hamil rata-rata lebih pendek 1 cm dan terhambat dalam kemampuan membaca dibandingkan dengan anak dari ibu yang tidak merokok. Analisis selanjutnya menunjukkan kemungkinan defisiensi ini berdampak saat dewasa yang bukan hanya pada panjang badan tetapi juga perkembangan intelektual. Gizi kurang merupakan periode kritis dari kecepatan pertumbuhan maksimum yang dapat menyebabkan kekerdilan permanen yang berhubungan dengan defisiensi sejumlah sel dalam organ.









7. Kebutuhan dasar nutrisi anak
a. Air
Air merupakan nutrien yang menjadi medium untuk nutrien lainnya.

b. Energi
Energi (kalori) harus disesuaikan dengan berat badan selama masa pertumbuhan. Kalori yang diberikan akan digunakan untuk:
- metabolisme basal
- spesific dynamic action adalah kenaikan kalori yang diperlukan di atas keperluan metabolisme basal, yang disebabkan oleh peristiwa makan dan mencernakan makanan
- pembuangan ekskreta (sisa yang tidak terpakai)
- aktivitas jasmani
- pertumbuhan

c. Protein
Nilai gizi protein ditentukan oleh kadar asam amino esensial. Protein hewani biasanya mempunyai nilai gizi yang lebih tinggi dibandingkan dengan protein nabati. Protein telur dan susu biasanya dipakai sebagai standar untuk nilai gizi protein.

d. Lemak
Sampai sekarang lemak masih dianggap tidak perlu terdapat dalam jumlah banyak, kecuali untuk asam lemak esensial (asam linoleat dan arakhidonat).

e. Karbohidrat
Karbohidrat sebagai sumber energi utama bagi tubuh anak.

f. Vitamin dan mineral



8. Masalah gizi pada anak:
a. Anemia defisiensi besi
Keadaan ini terjadi karena terlalu sedikit kandungan zat besi dalam makanan, terutama pada anak yang terlalu banyak mengkonsumsi susu sehingga mengundurkan keinginan untuk menyantap makanan lain. Sebaiknya sebagian susu diganti dengan air atau air jeruk. Air jeruk akan vitamin C yang membantu penyerapan besi.

b. Karies gigi
Lubang gigi sering terjadi pada anak karena sering memakan cemilan yang lengket dan banyak mengandung gula. Kejadian ini biasanya berlanjut sampai anak memasuki usia remaja bahkan sampai dewasa. Upaya mencegah karies yaitu dengan tidak mengkonsumsi makanan yang lengket atau bergula dan menggosok gigi dengan pasta gigi berfluorida (sebaiknya segera sesudah makan).

c. Penyakit kronis
Penyakit ini mengganggu pertumbuhan anak karena mnghilangkan nafsu makan.

d. Berat badan berlebih
Berbeda dengan dewasa, kelebihan berat anak tidak boleh diturunkan, karena penyusutan berat akan sekaligus menghilangkan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan. Laju pertambahan berat selayaknya diperlambat sampai proporsi berat terhadap tinggi badan kembali normal. Perlambatan ini dapat dicapai dengan cara mengurangi makan sambil memperbanyak olahraga.

e. Pica
Yaitu mengkonsumsi suatu yang bukan makanan misalnya perca dan debu. Perilaku ini tidak membahayakan hidup anak sejauh dia tidak menyantap zat toksik.

f. Televisi
Pada televisi iklan makanan anak bergizi jarang sekali ditayangkan.

g. Berat badan kurang
Kondisi ini mencerminkan kebiasaan makan yang buruk.

h. Alergi
Alergi makanan diartikan sebagai respons tidak normal terhadap makanan yang orang biasa dapat menoleransinya.

Faktor yang mempengaruhi masalah gizi anak :
 sama seperti faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Namun, faktor yang paling mempengaruhi masalah gizi anak :
a. Faktor fisiologis
b. Faktor masyarakat sekitarnya
c. Faktor sosio ekonomi
d. Faktor pendidikan orang tua


9. Parameter perkembangan yang digunakan dalam menilai perkembangan anak balita :
Frenkenburg dkk.(1981) malalui DDST (Denver Devolopmental Screening Test) mengemukakan empat parameter perkembangan yang dipakai dalam menilai perkembangan anak balita yaitu :
1. Personal social (kepribadian/tingkah laku sosial). Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri,bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
2. Fine motor adaptive (gerakkan matorik halus)
aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu,melakukan gerakan yang melibat bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan otot-otot kecil,tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. misalnya kemampuan untuk menggambar,memegang suatu benda,dll.
3. Language (bahasa)
Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara,mengikuti perintah dan berbicara sponton.
4. Gross motor (perkembangan matorik kasar)
Aspek yang brrhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.

10. Aspek-aspek perkembangan pada anak :
Ada juga yang membagi perkembangan balita menjadi 7 aspek perkembangan yaitu perkembangan :
1. Tingkah laku sosial
2. Menolong diri sendiri
3. Intelektual
4. Gerakan matorik halus
5. Komunikasi pasif
6. Komunikasi aktif
7. Gerakan motorik kasar
Sumber lain mengatakan bahwa, Aspek-aspek perkembangan anak meliputi :
1. Perkembangan Fisik (Motorik)
Perkembangan fisik (motorik) merupakan proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Setiap gerakan yang dilakukan anak merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak.

Perkembangan fisik (motorik) meliputi perkembangan motorik kasar dan motorik halus.
o Perkembangan motorik kasar
Kemampuan anak untuk duduk, berlari, dan melompat termasuk contoh perkembangan motorik kasar. Otot-otot besar dan sebagian atau seluruh anggota tubuh digunakan oleh anak untuk melakukan gerakan tubuh.

Perkembangan motorik kasar dipengaruhi oleh proses kematangan anak. Karena proses kematangan setiap anak berbeda, maka laju perkembangan seorang anak bisa saja berbeda dengan anak lainnya.
o Perkembangan motorik halus
Adapun perkembangan motorik halus merupakan perkembangan gerakan anak yang menggunakan otot-otot kecil atau sebagian anggota tubuh tertentu.

Perkembangan pada aspek ini dipengaruhi oleh kesempatan anak untuk belajar dan berlatih. Kemampuan menulis, menggunting, dan menyusun balok termasuk contoh gerakan motorik halus.
2. Perkembangan Emosi
Perkembangan pada aspek ini meliputi kemampuan anak untuk mencintai; merasa nyaman, berani, gembira, takut, dan marah; serta bentuk-bentuk emosi lainnya. Pada aspek ini, anak sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan orangtua dan orang-orang di sekitarnya.

Emosi yang berkembang akan sesuai dengan impuls emosi yang diterimanya. Misalnya, jika anak mendapatkan curahan kasih sayang, mereka akan belajar untuk menyayangi.
3. Perkembangan Kognitif
Pada aspek koginitif, perkembangan anak nampak pada kemampuannya dalam menerima, mengolah, dan memahami informasi-informasi yang sampai kepadanya. Kemampuan kognitif berkaitan dengan perkembangan berbahasa (bahasa lisan maupun isyarat), memahami kata, dan berbicara.
4. Perkembangan Psikososial
Aspek psikososial berkaitan dengan kemampuan anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Misalnya, kemampuan anak untuk menyapa dan bermain bersama teman-teman sebayanya.

Dengan mengetahui aspek-aspek perkembangan anak, orangtua dan pendidik bisa merancang dan memberikan rangsangan serta latihan agar keempat aspek tersebut berkembang secara seimbang.

Rangsangan atau latihan tidak bisa terfokus hanya pada satu atau sebagian aspek. Tentunya, rangsangan dan latihan tersebut diberikan dengan tetap memerhatikan kesiapan anak, bukan dengan paksaan.

Perkembangan Anak Balita :
Dalam perkembangan anak terdapat masa kritis, dimana diperlukan rangsangan atau stimulasi yang berguna agar potensi berkembangan, sehingga perlu mendapat perhatian.perkembangan psiko-sosial sangat dipengaruhi lingkungan dan interaksi antara anak dengan orang tua atau orang dewasa lainnya.perkembangan anak akan optimal bila interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangannya, bahkan sejak bayi masih didalam kandungan. Sedangkan lingkungan yang tidak mendukung akan menghambat perkembangan anak.

Banyak ”milestone” perkembangan anak yang penting , tetapi dibawah ini akan disajikan beberapa ”milestone”pokok yang harus kita ketahui dalam mengetahui taraf perkembangan seorang anak (yang dimaksud dengan ”milestone” perkembangan adalah tingkat perkembangan yang harus dicapai anak pada umur tertentu) , misalnya :

4-6 minggu : tersenyum spontan,dapat mengeluarkan suara
1-2 minggu kemudian

12-16 minggu : • menegakkan kepala,tengkurap sendiri
• menoleh kearah suara
• memegang benda yang ditaruh ditangannya

20 minggu : meraih benda yang didekatkan kepadanya
26 minggu : • dapat memindahkan benda dari satu tangan
ketangan lainya
• duduk,dengan bantuan kedua tanganya ke-
Depan

9-10 bulan : • menunjuk dengan jari telunjuk
• memegang benda dengan ibu jari dan telunjuk
• merangkak
• bersuara da....da....

13 bulan : • berjalan tanpa bantuan
• mengucapkan kata-kata tunggal

11. Gangguan fase pertumbuhan :
a. Pertumbuhan kerdil, disebabkan oleh kurangnya growth hormon (somatotropin).
b. Pertumbuhan raksasa, disebabkan oleh kelebihan growth hormon (somatotropin).
c. Retardasi fisik dan mental, disebabkan oleh defisiensi hormon tiroid.
d. Gangguan kardiovaskuler, metabolisme, otak, mata, seksual, disebabkan hipertiroidisme.
e. Pertumbuhan terhambat atau terhenti dan osteoporosis, disebabkan kelebihan hormon glukokortikoid (kortison).
f. Kelainan seksual, disebabkan oleh abnormalnya sekresi hormon testoteron (pada testis) dan estrogen serta progesteron (pada ovarium)







12. Sistem imun pada anak :

Imunitas Pasif Bawaan (passive congenital immunity)

Terdapat pada bayi baru lahir (nenatus) sampai bayi berumur 5 bulan. Neonates mendapatnya dari ibu sewaktu di dalam kandungan, yaitu berupa zat anti (antibodies) yang melalui jalan darah menembus plasenta.
Zat anti itu berupa globulin gama yang mengandung imunitas seperti yang juga dimiliki ibu. Namun zat anti itu lambat laun akan lenyap dari tubuh bayi. Dengan demikian sampai umur kurang lebih 5 bulan, bayi dapat terhindar dari beberapa penyakit infeksi, misalnya difteria, campak, (measles) dan lain-lain.

Imunitas pasif didapat (passive acquired immunity)

Zat anti didapatkan oleh anak dari luar dan hanya berlangsung pendek, yaitu 2-3 minggu karena zat anti seperti ini akan dikeluarkan lagi dari tubuh anak. Bahan zat anti demikian dapat berupa globulin gama murni yang didapat dari darah orang yang pernah mendapat penyakit, misalnya campak. Sebenarnya tidak hanya globulin gama murni yang dapat digunakan , tetapi darah atau serumnya dapat pula dipakai untuk disuntikkan (intramuskulus), tetapi tentunya dalam hal yang terakhir ini diperlukan jumlah yang jauh lebih banyak. Contoh lain adalah pemberian serum anti tetanus.

Efek samping

Umumnya serum yang diberikan untuk pemberian imunitas pasif seperti diuraikan di atas. Serum ini biasanya diperoleh dari binatang seperti kuda, kerbau sehingga mengandung protein yang asing yang dapat menyebabkan efek samping berupa:
1. Reaksi atopic (atopic reaction). Reaksi ini terjadi beberapa menit sesudah penyuntikan pertama dan kelainan yang terjadi dapat berupa rejatan (shock) berat, gatal seluruh badan, urtikaria pada tempat suntikan yang kemudian dapat meluas, gelisah, pucat, sianosis, dispnu, serta dapat terjadi kejang dan kematian.
Untuk mengatasi keadaan ini hanya suntikan adrenalin dan kortikosteroid yang dapat menolong.
2. Serum sickness. Masa tunas 6-24 hari. Gejala-gejala dapat berupa panas, urtikaria, eksantema, muntah-berak. Yang membahayakan adalah bila urtikaria atau edema terjadi di daerah glottis, sehingga akan terjadi sumbatan jalan nafas.
Pengobatan: adrenalin, kortikosteroid, antihistaminikum.
3. Reaksi terhadap suntikan ulangan.
a. Reaksi anafilaksis. Masa tunas beberapa menit sampai 24 jam. Gejala sama dengan reaksi atopic atau lebih ringan.
b. Accelerated reaction. Masa tunas 1-5 hari. Gejala sama dengan serum sickness.
Jelaslah bahwa penyuntikan serum, baik profilaksis maupun terapeutik dapat berubah. Oleh karena itu, bila anak diketahui menderita alergi atau pernah mendapatkan suntikan serum sebelumnya, maka perlu ditentukan lebih dulu apakah anak telah mempunyai alergi terhadap serum yang akan disuntikkan.
Cara penentuan adanya alergi ini dilakukan dengan uji kulit dan mata (skin and eye test).

Penyakit yang dapat dan lazim dicegah dengan serum untuk sementara:
1. Campak (measles, morbilli).
Yang dipakai adalah globulin gama 0,2 ml perkilogram berat badan atau serum konvalesen. Pencegahan biasanya dilaksanakan pada anak yang kontak dengan penderita campak di bangsa, oleh karena anak dengan kontak demikian mendrita campak, daya tahannya akan sangat menurun dan akan mudah mendapat komplikasi yang berat.
2. Tetanus.
Untuk pencegahan dapat diberikan 1500 UI serum anti tetanus (profilaksis) dalam batas 24 jam setelah menderita luka. Sesudah 24 jam tidak bermanfaat lagi. Maksud pemberian serum ini adalah untuk mengikat toksin yang mungkin mulai diproduksi oleh kuman tetanus, tetapi efeknya masih diragukan. Lebih efektif ialah bila anak semasa bayi telah mendapat imunisasi dasar dan sewaktu menderita luka diberi lagi toksoid tetanus. Dalam hal ini serum anti tetanus hanya diberikan bila dipandang perlu.
3. Gigitan ular berbisa.
Yang diberikan adalah anti anti snake venom dan serum ini dapat dipakai baik untuk pencegahan maupun pengobatan.
4. Rabies.

Berdasarkan lokalisasi dalam tubuh, imunitas dapat dibagi dalam: imunitas humoral (humoral immunity) dan imunitas selular (selular immunity).

Imunitas Humoral

Imunitas ini terkandung dalam imunoglobin (Ig). Secara elektroforesis dapat ditentukan bahwa Ig berupa β2A, β2M dan ¥, sedangkan secara ultrasentrifuse Ig dibagi menjadi 7S- dan 19S- globulin gama. Setiapmolekul Ig terdiri dari rantai H (Heavy) dan L (Light). Rantai H terdiri dari bermacam-macam tipe, tetapi yang terpenting untuk imunitas ialah rantai G, A, dan M. oleh karena itu dinamakan juga IgG, IgA, dan IgM.

Imunitas Selular

Imunitas ini terdiri dari : a. fagositosis oleh sel-sel sisitim retikulo endothelial, b. kemampuan sel tubuh untuk menolak dan mengeluarkan benda asing, c. alergi kulit terhadap sesuatu benda asing, yaitu kulit akan mengadakan reaksi sehingga akibat keadaan buruk dapat dihindarkan, d. mengenal antigen (yang sebelumnya pernah diketahui) secara cepat dan kemudian bereaksi pula secara cepat dan tepat untuk menghindarkan akibat buruk.
Dari manakah asalnya imunoglobin? Pada bayi baru lahir sampai umur 5 bulan terdapat IgG yang didapat dari ibu. IgA dan IgM tidak terdapat, namun perlahan-lahan diproduksi sendiri oleh tubuh bayi. Tubuh bayi baru dapat membuat IgG sendiri pada umur kurang lebih 3 bulan. Hal ini penting diketahui berhubungan dengan imunisasi dasar pada bayi.
Berdasarkan kwantitas maupun kwalitas imunoglobin ini, dikenal beberapa penyakit:
1. Hipoimunoglobulinemia yang fisiologis.
Jumlah IgG dari ibu hanya sedikit sekali, sehingga bayi sering menderita infeksi berat pada bulan-bulan pertama kehidupannya.
2. Hipoimunoglobulinemia tipe Bruton.
Penyakit ini familial dan menyerang laki-laki. Dalam jaringan terdapat sel plasma sedikit sekali, juga jaringan limfoid sedikit sekali, walaupun dalam darah jumlah sel limfosit normal.
3. Hipoimunoglobulinemia tipe Swiss.
Penyakit ini seperti tipe Bruton, tetapi jumlah limfosit dalam darah sedikit sekali dan prognosis penyakit ini buruk.

Pembuatan Imunoglobulin

Dari pendapat umum dinyatakan bahwa stem cell merupakan permulaan semua sel yang mengakibatkan imunitas. Selain untuk imunitas, stem cell juga merupakan asal mula (prekursor) daripada sael darah lainnya (bersifat pluripotent). Dua organ penting dalam pembuatan sel imunitas ialah timus dan bursa fabrisius. Timus terdapat pada manusia dan semua vertebrata, sedangkan bursa pada burung. Pada manusia yang dianggap analog dengan bursa ialah jaringan limfoid di traktus digestivus.

Stem cell menempuh dua jalan:
1. Melampaui timus dan berubah menjadi sel-sel limfoid yang kemudian akan menjalankan pekerjaan imunitas sel. Sel-sel ini dinamakan thymus dependent dan tersebar di jaringan-jaringan seluruh tubuh. Sel-sel ini juga dinamakan sel T (timus).
2. Melampaui bursa (pada burung, sedangkan pada manuisa melampaui jaringan limfoid di traktus digestivus) dan di sini berubah menjadi sel plasma dan pusat germinal dimana keduanya inilah merupakan pabrik imunoglobulin (imunitas humoral). Sel-sel ini juga dinamakan sel B (bursa) atau bursa dependent.
Oleh karenanya sistim imunitas dibagi menjadi dua jaringan limfoid perifer (sel T dan sel B) serta jaringan limfoid sentral (timus dan bursa). Sel T dan B di perifer tidak akan berubah lagi, namun bila diperlukan oleh tubuh timus dan bursa dapat memproduksi dan mengubah stem cell untuk berproliferasi cepat menjadi sel T dan B. sepintas lalu sel T dan B seakan-akan terpisah, sebenarnya terdapat hubungan yang cukup erat. Bila tubuh terserang antigen yang telah dikenal terlebih dahulu (recognition), maka di porte d’entrée pertama-tama akan berhadapan dengan sel T dan bila diperlukan maka sel T ini akan memberikan informasi kepada sel B agar secepatnya membuat imunoglobulin untuk memusnahkan antigen tersebut. Jalan kebalikan (sel B memberikan informasi kepada sel T) dapat juga terjadi, hanya cara informasi ini belum diketahui dengan benar, mungkin melalui saraf, mungkin pula melalui hormon.
Bila seseorang mendapat imunisasi baik secara oral maupun parenteral maka reaksi imunitas akan terjadi pada sel T dan B. oleh karenanya walaupun imunisasi sudah lama diberikan dan kadar zat anti dalam darah sudah menurun, belumlah berarti bahwa imunitas tubuh telah hilang. Masih ada imunitas sel (sel T) yang bila perlu dapat mengenal secara cepat sehingga produksi zat anti dapat terjadi.

Imunitas Aktif

Imunitas aktif dibagi menjadi dua bagian:
1. Didapat secara alami (naturally acquired). Contohnya adalah difteria di negeri yang sedang berkembang tanpa imunisasi yang teratur dan menyeluruh. Anak-anak secara alami sampai umur belasan tahun mendapat infeksi berbentuk silent abortive yang menyebabkan sebagian anak menderita sakit yang ringan, kemudian sembuh dengan sendirinya dan imun. Hanya anak yang dalam keadaan tertentu menjadi sakit berat. Contoh lain adalah polimielitis, dimana 98% anak berumur 7 tahun telah mempunyai zat anti terhadap penyakit ini. Imunisasi alami merupakan imunitas yang terkuat, tetapi perlu diperhitungkan berapa anak yang oleh infeksi itu meninggal atau sembuh dengan cacat seumur hidup. Oleh karena itu, imunitas secara sengaja (artificially induced) perlu dilaksanakan sebanyak-banyaknya, mencakup semua anak.
2. Sengaja dibuat (artificially induced). Cara pemberian imunitas terdiri dari tiga macam antigen, yaitu: a. live attenuated bacteria or virus, b. killed bacteria or virus; kedua bahan yang disebut di atas biasanya dinamakan vaksin karena masih mengandung tubun kuman, c. toksoid.
1. live attenuated bacteria or virus
Yang dipakai ialah kuman yang masih hidup namun telah dijinakkan (attenuated), sehingga tidak dapat menyebabkan penyakit, melainkan masih dapat mengakibatkan imunitas, misalnya smallpox, Bacillus Calmette Guerin (BCG), polio Sabin, campak, dan pada waktu ini di luar negeri juga telah ada vaksin untuk ensefalitis, trakoma dan lain-lain.
2. killed bacteria or virus
Misalnya kolera, tifus abdominalis, paratipus (kotipa), pertusis, polio Salk.
3. Toksoid
Yang dipakai ialah toksin yang telah diolah sedemikian rupa, misalnya dengan formol dan kemudian diabsorbsi dengan aluminium sehingga biasanya dinamakan formol toxoid alum precipitated. Arti absorbs dengan aluminium ialah agar dapat merupakan depot di jaringan tubuh sehingga pengeluaran dari depot berlangsung sedikit demi sedikit dalam jangka waktu yang lama, oleh karena itu lebih efektif dan dapat menghasilkan kwantitas zat anti yang lebih besar.

Reaksi tubuh terhadap antigen lambat sehingga waktu untuk mendapatkan lbih banyak zat anti akan lama pula. Cara yang lazim dipakai sekarang ialah dengan terlebih dahulu melaksanakan imunisasi dasar yang terdiri dari tiga kali imunisasi berturut-turut dengan jarak antara 4-8 minggu. Yang menyimpang dari cara di atas adalah imunisasi cacar (smallpox) dan BCG yang hanya dikerjakan sekali namun imunisasi ulangan (booster) harus dilakukan pula.


Imunisasi Aspesifik

Imunitas yang diutarakan di atas disebut imunitas spesifik oleh karena tertuju kepada penyakit tertentu dan dengan zat anti yang spesifik dan tertentu pula. Disamping itu sebenarnya masih ada imunitas yang aspesifik dan sukar diterangkan, seperti:
1. Tuberkulosis, walaupun termasuk penyakit infeksi, tetapi ternyata diperlukan juga suatu hereditas tubuh untuk dapat menderitanya.
2. Umur: campak, cacar air, gondokan (mumps) lebih berat dan berbahaya pada orang dewasa.
3. Defisiensi vitamin menurunkan daya pembentukan zat anti.
4. Anemia sering menyebabkan infeksi traktus respiratorius.
5. Kwashiorkor tidak mudah terserang virus.
6. Kortikosteroid dapat memberatkan penyakit tuberculosis dan cacar air.

13. Imunisasi pada anak
Sesuai dengan yang diprogramkan oleh organisasi kesehatan dunia WHO (Badan Kesehatan Dunia), Pemerintah Indonesia menetapkan ada 12 imunisasi yang harus diberikan kepada anak-anak. 5 Diantaranya merupakan imunisasi yang wajib diberikan sebab fungsinya adalah untuk mencegah anak dari serangan penyakit. Sedangkan 7 jenis imunisasi lainnya merupakan imunisasi yang dianjurkan sebab hanya berfungsi untuk menambah daya tahan tubuh anak terhadap beberapa jenis penyakit.


IMUNISASI WAJIB
Imunisasi yang wajib diberikan pada balita di bawah 12 bulan adalah BCG, hepatitis B, polio, DPT dan campak. Berfungsi untuk menangkis penyakit-penyakit yang dapat menimbulkan kematian serta kecacatan. Seperti TBC, Hepatitis dan Polio. Sedangkan reaksi masing-masing imunisasi juga berbeda-beda pada setiap anak, tergantung pada penyimpanan vaksin dan sensitivitas tubuh tiap anak.

BCG
Vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). BCG diberikan 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan, vaksin ini mengandung bakteri bacillus calmette-guerrin hidup yang dilemahkan sebanyak 50.000-1.000.000 partikel/dosis. Biasanya reaksi yang ditimbulkan oleh imunisasi ini adalah setelah 4-6 minggu di tempat bekas suntikan akan timbul bisul kecil yang akan pecah. Namun jangan kautir, sebab hal ini merupakan reaksi yang normal. Namun jika bisulnya dan timbul kelenjar pada ketiak atau lipatan paha, sebaiknya anak segera dibawa kembali ke dokter. Sementara waktu untuk mengatasi pembengkakan, kompres bekas suntikan dengan cairan antiseptik.

Hepatitis B
Imunisasi Hepatitis B untuk mencegah penyakit yang disebabkan virus hepatitis B yang berakibat pada hati. Penyakit itu menular melalui darah atau cairan tubuh yang lain dari orang yang terinfeksi. Vaksin ini diberikan 3 kali hingga usia 3-6 bulan.
Polio
Imunisasi polio memberikan kekebalan terhadap penyakit polio. Penyakit ini disebabkan virus, menyebar melalui tinja/kotoran orang yang terinfeksi. Anak yang terkena polio dapat menjadi lumpuh layuh. Vaksin polio ada dua jenis, yakni vaccine polio inactivated (IPV) dan vaccine polio oral (OPV). Vaksin ini diberikan pada bayi baru lahir, 2,4,6,18 bulan dan 5 tahun.

IMUNISASI YANG DIANJURKAN
Vaksin-vaksin tersebut adalah Hib, Pneumokokus (PCV), Influenza, MMR, Tifoid, Hepatitis A, dan Varisela.
Hib
Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh haemophilus influenza tipe b yang disebabkan oleh bakteri. Organisme ini bisa menyebabkan meningitis (radang selaput otak), pneumonia (radang paru) dan infeksi tenggorokan. Vaksin ini diberikan 4 kali pada usia 2,4,6 dan 15-18 bulan.
Pneumokokus (PCV)
Imunisasi ini untuk mencegah penyakit paru-paru dan radang otak. Imunisasi ini juga melindungi anak terhadap bakteri yang sering menyebabkan infeksi telinga dan radang tenggorokan. Bakteri ini juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti meningitis dan radang paru.
Vaksin Influenza
Dapat diberikan setahun sekali sejak umur 6 bulan. Vaksin ini dapat terus diberikan hingga dewasa.
MMR
MMR merupakan pengulangan vaksin campak, ditambah dengan Gondongan dan Rubela (Campak Jerman). Diberikan saat anak usia 15 bulan dan diulang saat anak berusia 6 tahun. Reaksi dari vaksin ini biasanya baru muncul tiga minggu setelah diberikan, berupa bengkak di kelenjar belakang telinga. Untuk mengatasinya, berikan anak obat penghilang nyeri. Patut diperhatikan, jangan langsung membawa pulang anak setelah ia diimunisasi MMR. Tunggulah hingga 15 menit, sehingga jika timbul suatu reaksi bisa langsung ditangani.



Imunisasi varisella
Berfungsi memberikan perlindungan terhadap cacar air. Cacar air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, komplikasinya infeksi kulit dan bisa infeksi di otak. Vaksin ini diberikan pada anak usia 1-13 tahun 1 kali dan lebih dari 13 tahun 2 kali.

Tifoid
Imunisasi untuk mencegah Typus. Imunisasi ini dapat diulang setiap 3 tahun.

Hepatitis A
Imunisasi inidapat diberikan pada anak usia di atas 2 tahun.
SYARAT PEMBERIAN IMUNISASI
Paling utama adalah anak yang akan mendapat imunisasi harus dalam kondisi sehat. Sebab pada prinsipnya imunisasi itu merupakan pemberian virus dengan memasukkan virus, bakteri, atau bagian dari bakteri ke dalam tubuh, dan kemudian menimbulkan antibodi (kekebalan). Untuk membentuk kekebalan yang tinggi, anak harus dalam kondisi fit. Jika anak dalam kondisi sakit maka kekebalan yang terbentuk tidak bagus.

Imunisasi tidak boleh diberikan hanya pada kondisi tertentu misalkan anak mengalami kelainan atau penurunan daya tahan tubuh misalkan gizi buruk atau penyakit HIV/AIDS atau dalam penggunaan obat obatan steroid, anak diketahui mengalami reaksi alergi berat terhadap imunisasi tertentu atau komponen imunisasi tertentu.
VAKSIN KOMBINASI
Biasanya diberikan pada anak yang orangtuanya lupa pada jadwal vaksinasi anaknya. Jadi, para orangtua tak perlu takut jika sempat terlewat jadwal imunisiasi buah hari sebab tak ada itu istilah hangus untuk imunisasi. Orangtua pun tak perlu harus mengulang imunisasi dari awal sebab sel-sel memori dalam tubuh mampu mengingat dan akan merangsang kekebalan bila diberikan imunisasi berikutnya.








D. STEP 5
1. Status gizi pada anak
2. Penilaian status gizi anak
3. Gangguan mental pada anak
















E. STEP 6
Arisman, Dr. 2002. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC.
Guyton & Hall. 1997. Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta : EGC.

Sastrawinata, Sulaiman. 1983. Obstetri Fisiologi. Bandung : Eleman.

Soetjiningsih, dr. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC.

http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/ /index.shtml. Diakses tanggal 15 Maret 2009.
http://ridwanamiruddin.wordpress.com/2007/05/05/tumbuh-kembang-anak/. Diakses tanggal 22 Maret 2009.
http://www.perkembangananak.com/2008/10.html Diakses tanggal 22 Maret 2009.
http://www.infoibu.com/imunisasi-anak. Diakses tanggal 22 Maret 2009.
http://c3i.sabda.org/artikel/gangguan mental anak. Diakses tanggal 22 Maret 2009.
http://yudhim.blogspot.com/2008/01/mengenal-beberapa-jenis-gangguan-mental.html. Diakses tanggal 22 Maret 2009.
http://medicastore.com/artikel_index/status-gizi-anak.html. Diakses tanggal 22 Maret 2009
http://busung-lapar.blogspot.com/2006/09/tabel-baku-rujukan-penilaian-status.html. Diakses tanggal 22 Maret 2009.


F. STEP 7
1. Status gizi pada anak
Menurut ahli gizi dari IPB, Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS, standar acuan status gizi balita adalah Berat Badan menurut Umur (BB/U), Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB), dan Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). Sementara klasifikasinya adalah normal, underweight (kurus), dan gemuk.

Untuk acuan yang menggunakan tinggi badan, bila kondisinya kurang baik disebut stunted (pendek). Pedoman yang digunakan adalah standar berdasar tabel WHO-NCHS (National Center for Health Statistics).

Status gizi pada balita dapat diketahui dngan cara mencocokkan umur anak (dalam bulan) dengan berat badan standar tabel WHO-NCHS, bila berat badannya kurang, maka status gizinya kurang.

Di Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu), telah disediakan Kartu Menuju Sehat (KMS) yang juga bisa digunakan untuk memprediksi status gizi anak berdasarkan kurva KMS. Perhatikan dulu umur anak, kemudian plot berat badannya dalam kurva KMS. Bila masih dalam batas garis hijau maka status gizi baik, bila di bawah garis merah, maka status gizi buruk.
Status gizi ada 3 yaitu :
a. Kekurangan gizi (Hipo)
Misalnya kekurangan protein menyebabkan rambut seorang anak berwarna agak pirang (tidak hitam) dan mudah dicabut, serta dapat menyebabkan kwasiorkor dan marasmus.
b. Normal
Kadar gizi tercukupi dengan baik.
c. Kelebihan gizi (hiper)
Misal kelebihan lemak akan berdampak pada obesitas.

Cara mengukur status gizi pada anak :
Berat Badan normal anak yang seharusnya dicapai pada umur N :
C = (2N + 8)

Keterangan :
N = Umur anak (tahun)
C = Berat Badan anak yang seharusnya pada umur N (kg)

Lalu, perhitungan selanjutnya :
Y = Berat badan anak pada kasus X 100
C
Nilai-nilai referensi nya :
Y = 80 -100 : Berat badan normal
Y = 70 – 80 : Gangguan berat badan ringan
Y = 60- 70 : Gangguan berat badan sedang
Y = Di bawah 60 : Gangguan berat badan berat

Tabel Baku Rujukan Penilaian Status Gizi Anak Perempuan dan Laki-laki, Usia 0 s.d. 9 Bulan, menurut Berat Badan dan Umur
Sumber: Departemen Kesehatan RI
Anak Perempuan
Umur (Bulan) Gizi Buruk (kg) Gizi Kurang (kg) Gizi Baik (kg) Gizi Lebih (kg)
0 1.7 1.8 - 2.1 2.2 - 3.9 4.0
1 2.1 2.2 - 2.7 2.8 - 5.0 5.1
2 2.6 2.7 - 3.2 3.3 - 6.0 6.1
3 3.1 3.2 - 3.8 3.9 - 6.9 7.0
4 3.6 3.7 - 4.4 4.5 - 7.6 7.7
5 4.0 4.1 - 4.9 5.0 - 8.3 8.4
6 4.5 4.6 - 5.4 5.5 - 8.9 9.0
7 4.9 5.0 - 5.8 5.9 - 9.5 9.6
8 5.3 5.4 - 6.2 6.3 – 10.0 10.1
9 5.6 5.7 - 6.5 6.6 – 10.4 10.5
10 5.8 5.9 - 6.8 6.9 – 10.8 10.9
11 6.1 6.2 - 7.1 7.2 – 11.2 11.3
12 6.3 6.4 - 7.3 7.4 – 11.5 11.6
13 6.5 6.6 - 7.5 7.6 – 11.8 11.9
14 6.6 6.7 - 7.7 7.8 – 12.1 12.2
15 6.8 6.9 - 7.9 8.0 – 12.3 12.4
16 6.9 7.0 - 8.1 8.2 – 12.5 12.6
17 7.1 7.2 - 8.2 8.3 – 12.8 12.9
18 7.2 7.3 - 8.4 8.5 – 13.0 13.1
19 7.4 7.5 - 8.5 8.6 – 13.2 13.3
20 7.5 7.6 - 8.7 8.8 – 13.4 13.5
21 7.6 7.7 - 8.9 9.0 – 13.7 13.8
22 7.8 7.9 - 9.0 9.1 – 13.9 14.0
23 8.0 8.1 - 9.2 9.3 – 14.1 14.2
24 8.2 8.3 - 9.3 9.4 – 14.5 14.6
25 8.3 8.4 - 9.5 9.6 – 14.8 14.9
26 8.4 8.5 - 9.7 9.8 – 15.1 15.2
27 8.6 8.7 - 9.8 9.9 – 15.5 15.6
28 8.7 8.8 – 10.0 10.1 - 15.8 15.9
29 8.8 8.9 – 10.1 10.2 - 16.0 16.1
30 8.9 9.0 – 10.2 10.3 - 16.3 16.4
31 9.0 9.1 – 10.4 10.5 - 16.6 16.7
32 9.1 9.2 – 10.5 10.6 - 16.9 17.0
33 9.3 9.4 – 10.7 10.8 - 17.1 17.2
34 9.4 9.5 – 10.8 10.9 - 17.4 17.5
35 9.5 9.6 – 10.9 11.0 - 17.7 17.8
36 9.6 9.7 – 11.1 11.2 - 17.9 18.0
37 9.7 9.8 – 11.2 11.3 - 18.2 18.3
38 9.8 9.9 – 11.3 11.4 - 18.4 18.5
39 9.9 10.0 - 11.4 11.5 - 18.6 18.7
40 10.0 10.1 - 11.5 11.6 - 18.9 19.0
41 10.1 10.2 - 11.7 11.8 - 19.1 19.2
42 10.2 10.3 - 11.8 11.9 - 19.3 19.4
43 10.3 10.4 - 11.9 12.0 - 19.5 19.6
44 10.4 10.5 - 12.0 12.1 - 19.7 19.8
45 10.5 10.6 - 12.1 12.2 - 20.0 20.1
46 10.6 10.7 - 12.2 12.3 - 20.2 20.3
47 10.7 10.8 - 12.4 12.5 - 20.4 20.5
48 10.8 10.9 - 12.5 12.6 - 20.6 20.7
49 10.8 10.9 - 12.6 12.7 - 20.8 20.9
50 10.9 11.0 - 12.7 12.8 - 21.0 21.1
51 11.0 11.1 - 12.8 12.9 - 21.2 21.3
52 11.1 11.2 - 12.9 13.0 - 21.4 21.5
53 11.2 11.3 - 13.0 13.1 - 21.6 21.7
54 11.3 11.4 - 13.1 13.2 - 21.8 21.9
55 11.4 11.5 - 13.2 13.3 - 22.1 22.2
56 11.4 11.5 - 13.3 13.4 - 22.3 22.4
57 11.5 11.6 - 13.4 13.5 - 22.5 22.6
58 11.6 11.7 - 13.5 13.6 - 22.7 22.8
59 11.7 11.8 - 13.6 13.7 - 22.9 23.0



Anak Laki-laki
Umur Gizi Buruk (kg) Gizi Kurang (kg) Gizi Baik (kg) Gizi Lebih (kg)
0 1.9 2.0 - 2.3 2.4 - 4.2 4.3
1 2.1 2.2 - 2.8 2.9 - 5.5 5.6
2 2.5 2.6 - 3.4 3.5 - 6.7 6.8
3 3.0 3.1 - 4.0 4.1 - 7.6 7.7
4 3.6 3.7 - 4.6 4.7 - 8.4 8.5
5 4.2 4.3 - 5.2 5.3 - 9.1 9.2
6 4.8 4.9 - 5.8 5.9 - 9.7 9.8
7 5.3 5.4 - 6.3 6.4 - 10.2 10.3
8 5.8 5.9 - 6.8 6.9 - 10.7 10.8
9 6.2 6.3 - 7.1 7.2 - 11.2 11.3
10 6.5 6.6 - 7.5 7.6 - 11.6 11.7
11 6.8 6.9 - 7.8 7.9 - 11.9 12.0
12 7.0 7.1 - 8.0 8.1 - 12.3 12.4
13 7.2 7.3 - 8.2 8.3 - 12.6 12.7
14 7.4 7.5 - 8.4 8.5 - 12.9 13.0
15 7.5 7.6 - 8.6 8.7 - 13.1 13.2
16 7.6 7.7 - 8.7 8.8 - 13.4 13.5
17 7.7 7.8 - 8.9 9.0 - 13.6 13.7
18 7.8 7.9 - 9.0 9.1 - 13.8 13.9
19 7.9 8.0 - 9.1 9.2 - 14.0 14.1
20 8.0 8.1 - 9.3 9.4 - 14.3 14.4
21 8.2 8.3 - 9.4 9.5 - 14.5 14.6
22 8.3 8.4 - 9.6 9.7 - 14.7 14.8
23 8.4 8.5 - 9.7 9.8 - 14.9 15.0
24 8.9 9.0 - 10.0 10.1 - 15.6 15.7
25 8.9 9.0 - 10.1 10.2 - 15.8 15.9
26 9.0 9.1 - 10.2 10.3 - 16.0 16.1
27 9.0 9.1 - 10.3 10.4 - 16.2 16.3
28 9.1 9.2 - 10.4 10.5 - 16.5 16.6
29 9.2 9.3 - 10.5 10.6 - 16.7 16.8
30 9.3 9.4 - 10.6 10.7 - 16.9 17.0
31 9.3 9.4 - 10.8 10.9 - 17.1 17.2
32 9.4 9.5 - 10.9 11.0 - 17.3 17.4
33 9.5 9.6 - 11.0 11.1 - 17.5 17.6
34 9.6 9.7 - 11.1 11.2 - 17.7 17.8
35 9.6 9.7 - 11.2 11.3 - 17.9 18.0
36 9.7 9.8 - 11.3 11.4 - 18.2 18.3
37 9.8 9.9 - 11.4 11.5 - 18.4 18.5
38 9.9 10.0 - 11.6 11.7 - 18.6 18.7
39 10.0 10.1 - 11.7 11.8 - 18.8 18.9
40 10.1 10.2 - 11.8 11.9 - 19.0 19.1
41 10.2 10.3 - 11.9 12.0 - 19.2 19.3
42 10.3 10.4 - 12.0 12.1 - 19.4 19.5
43 10.4 10.5 - 12.2 12.3 - 19.6 19.7
44 10.5 10.6 - 12.3 12.4 - 19.8 19.9
45 10.6 10.7 - 12.4 12.5 - 20.0 20.1
46 10.7 10.8 - 12.5 12.6 - 20.3 20.4
47 10.8 10.9 - 12.7 12.8 - 20.5 20.6
48 10.9 11.0 - 12.8 12.9 - 20.7 20.8
49 11.0 11.1 - 12.9 13.0 - 20.9 21.0
50 11.1 11.2 - 13.00 13.1 - 21.1 21.2
51 11.2 11.3 - 13.2 13.3 - 21.3 21.4
52 11.3 11.4 - 13.3 13.4 - 21.6 21.7
53 11.4 11.5 - 13.4 13.5 - 21.8 21.9
54 11.5 11.6 - 13.6 13.7 - 22.0 22.1
55 11.7 11.8 - 13.7 13.8 - 22.2 22.3
56 11.8 11.9 - 13.8 13.9 - 22.5 22.6
57 11.9 12.0 - 14.0 14.1 - 22.7 22.8
58 12.0 12.1 - 14.1 14.2 - 22.9 23.0
59 12.1 12.2 - 14.2 14.3 - 23.2 23.3





2. Penilaian status gizi anak meliputi:
1. Pemeriksaan klinis diarahkan untuk mencari kemungkinan adanya bintik bitot, xerosis konjungtiva, anemia, pembesaran kelenjar parotis, kheilosis angular, fluorosis, karies, gondok, serta hepato dan splenomegali,
2. Penilaian antropometris yaitu penimbangan berat dan pengukuran tinggi badan, lingkar lengan, dan lipatan lipatan kulit triceps.
3. Uji biokimia ialah pemeriksaan kadar hemoglobin, serta pemeriksaan apusan darah untuk malaria.


3. Gangguan mental pada anak :
a. Retardasi mental
Muncul sebelum usia 18 tahun dan dicirikan dengan keterbatasan substandar dalam berfungsi ,yang dimanisfestasikan dengan fungsi intelektual secara signifikan berada dibawah rata-rata (mis, IQ dibawah 70) dan keterbatasan terkait dalam dua bidang keterampilan adaptasi atau lebih (mis, komunikasi, perawatan diri, aktivitas hidup sehari-hari, keterampilan sosial, fungsi dalam masyarakat, pengarahan diri, kesehatan dan keselamatan, fungsi akademis dan bekerja).
Anak yang kurang normal :
- Idiot  IQ = kurang dari 50 = anak umur dua tahun.
- Embisi  IQ = 50-70 = anak umur 6 tahun.
- Debil (Moron)  IQ = 70-85 = anak umur 9-10 tahun.

b. Autisme
Dicirikan dengan gangguan yang nyata dalam interaksi sosial dan
komunikasi, serta aktivitas minat yang terbatas. Gejala-gejalanya
meliputi kurangnya responsivitas terhadap orang lain, menarik diri dari
hubungan sosial , kerusakan yang menonjol dalam komunikasi dan respon
yang aneh terhadap lingkungan (mis, tergantung pada benda mati dan
gerakan tubuh yang berulang-ulang seperti mengepakkan tangan , dan memukul kepala)
c. Gangguan perkembangan spesifik
Dicirikan dengan keterlambatan perkembangan yang mengarah pada kerusakan fungsional pada bidang-bidang seperti membaca, aritmetika, bahasa, dan artikulasi verbal.

Pada suatu saat dalam kehidupannya, manusia tentu pernah mengalami suatu kejadian yang begitu membekas dalam seluruh struktur kepribadiannya. Peristiwa tersebut disebut peristiwa traumatis. Contohnya adalah kematian orang yang dicintai, kegagalan dalam menempuh ujian, maupun pengalaman yang tidak menyenangkan yang membuat takut. Peristiwa-peristiwa traumatik seperti itu akan mempengaruhi kondisi psikologis seseorang sehingga pola perilakunya berubah.

Salah satu cabang psikologi yang mempelajari gangguan-gangguan psikis, emosional, dan perilaku yang menyimpang disebut Psikopatologi.

Abnormalitas adalah suatu perilaku yang bertentangan dengan suatu keadaan yang normal. Adapun normalitas seseorang yang disepakati para ahli adalah sebagai berikut :
• Persepsi yang efisien terhadap kenyataan, artinya seseorang tidak memandang sesuatu dengan membesar-besarkan atau mengecilkan sesuatu
• Mengenali diri sendiri
• Mampu mengendalikan perilakunya atas kehendaknya sendiri
• Memiliki harga diri dan diterima oleh lingkungannya
• Mampu memberi perhatian dan membina hubungan cinta kasih
• Produktif

Ada banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya gangguan mental. Faktor-faktor tersebut adalah :
• Faktor fisiologis dan biologis, seperti terjadinya kerusakan pada otak (brain damage), kegagalan perkembangan otak, ataupun cacat fisik lainnya yang berpengaruh pada kegagalan otak. Faktor-faktor ini biasa disebut dengan Samatogenik
• Faktor psikologis, seperti rasa sepi, stress, kecemasan, dan sebagainya. Faktor ini biasa disebut dengan Psikogenik
• Faktor lingkungan, seperti peperangan, kerusuhan rasial, kelaparan, kehidupan di penjara, lingkungan sekolah yang terlalu kompetitif, dan sebagainya

Untuk menentukan jenis-jenis gangguan mental, para ahli sepakat menggunakan kalsifikasi DSM-III, atau singkatan dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders revisi ke 3 tahun 1980. Menurut DSM-III, jenis-jenis gangguan mental secara umum adalah sebagai berikut :
1. Disorders first evident in infancy, childhood, or adolescence atau penyimpangan/kekacauan fungsi perkembangan pada masa kanak-kanak dan remaja. Termasuk di dalamnya adalah : retardasi mental, hiperaktif, kecemasan pada anak-anak, penyimpangan perilaku makan (seperti anoreksia), dan semua penyimpangan dari perkembangan yang normal
2. Organic mental disorders, mencakup di dalamnya semua penyimpangan/kekacauan mental yang disebabkan oleh kerusakan otak akibat pengaruh dari berbagai penyakit yang berhubungan dengan traumatik dan kecemasan seperti penyakit kelamin serta pengaruh racun yang masuk ke dalam tubuh seperti penggunaan alkohol yang kelewat batas
3. Substance use disorders, mencakup di dalamnya semua penyimpangan/kekacauan mental yang disebabkan oleh pengaruh zat-zat kimia, seperti penggunaan narkotika, zat-zat adiktif, psikotropika, alkohol, nikotin, dan sebagainya
4. Schizophrenic disorders, atau kelompok penyimpangan/kekacauan kepribadian sehingga tidak mampu berhubungan lagi dengan realitas atau kenyataan
5. Paranoid disorders, atau perasaan curiga terhadap segala sesuatu yang berlebihan seperti perasaan seakan-akan dirinya diintai terus-menerus, perasaan seakan-akan semua orang membencinya, dan sebagainya
6. Affective disorders, atau depresi berat yang membuat seseorang selalu tidak bergairah murung, dan apatis
7. Anxiety disorders, atau kecemasan yang berlebihan seperti kecemasan akan harga diri, kecemasan akan masa depan, dan sebagainya
8. Somatoform disorders, yaitu kerusakan pada organ tubuh atau timbulnya penyakit parah yang disebabkan oleh faktor psikologis seperti kecemasan yang berlarut-larut, tetapi bila diteliti secara medis tidak ditemukan adanya penyakit atau gangguan medis lainnya
9. Dissociative disorders, gangguan temporal yang menyebabkan gagalnya fungsi memory atau hilangnya kontrol terhadap emosi, seperti amnesia dan kasus kepribadian ganda (multiple personality)
10. Psychosexual disorders, termasuk di dalamnya semua penyimpangan identitas seksual (transexual), kemampuan seksualitas (impoten, ejakulasi dini, frigiditas), dan kelainan seksual (menikmati hubungan seks dengan anak kecil, dengan binatang, atau dengan mayat). Homoseksualitas termasuk di dalamnya jika orang tersebut tidak menikmati keadaannya sebagai seorang homoseks
11. Conditions not attributable to a mental disorder, atau kondisi-kondisi yang tidak termasuk dalam kegagalan/kekacauan mental, seperti masalah-masalah rumit yang membuat seseorang harus mencari jalan keluarnya (seperti masalah perkawinan), hubungan orang tua dengan anak, atau kekerasan terhadap anak-anak
12. Personality disorders, ketidakmampuan seseorang untuk berperilaku dan mengatasi stress, seperti perilaku antisosial

Gangguan-gangguan karena kecemasan
Seseorang mengalami gangguan kecemasan bila setiap saat dalam kehidupannya sehari-hari ia selalu merasakan tegangan psikologis yang cukup tinggi, walaupun persoalan yang dihadapi cukup ringan. Orang yang selalu cemas, kadang-kadang akan terserang rasa panik, yaitu suatu periode ketakutan yang luar biasa seakan-akan malapetaka besar akan terjadi. Keadaan ini akan diikuti oleh gejala-gejala gangguan fisik seperti jantung berdegub kencang, nafas tersenggal-senggal, keringat dingin, gemetar yang hebat, bahkan kadang-kadang sampai pingsan. Individu yang mengalami gangguan kecemasan tidak tahu faktor-faktor yang menyebabkan dia bertingkah laku seperti itu. Kecemasan ini sering disebut free-floating, karena tidak jelas faktor yang menyebabkannya. Para ahli berpendapat bahwa penyebab gangguan ini lebih bersifat internal daripada eksternal.
Phobia adalah gangguan kecemasan yang lebih spesifik, yang timbul bila menghadapi rangsangan tertentu saja, seperti jenis serangga tertentu, tempat yang tinggi, tempat yang tertutup, dan sebagainya. Salah satu penyebab dari phobia adalah serangan rasa panik atau pengalaman-pengalaman yang menakutkan di masa lampau.
Bila individu cenderung selalu terdorong memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia pikirkan dan melakukan tindakan-tindakan yang sebenarnya tidak ingin dia lakukan, maka ia mengalami gangguan obsesif-kompulsif. Walau penyebab gangguan kecemasan ini sulit untuk diketahui, tetapi reaksi mereka menunjukkan bahwa individu-individu tersebut mempunyai perasaan tidak mampu dalam menghadapi situasi-situasi yang mereka pandang mengancam.

Gangguan-gangguan afektif
Gangguan-gangguan afektif adalah gangguan-gangguan terhadap suasana hati (mood). Bila mengalami gangguan ini, orang akan menunjukkan reaksi seperti amat tertekan batinnya (depresif) dan kadang-kadang menunjukkan reaksi riang gembira yang agak berlebihan (manic). Bila seseorang sedang mengalami gangguan manic yang agak ringan, yang disebut hipomania, orang tersebut akan kelihatan energik, entusiastik, dan penuh kepercayaan diri. Ia mengerjakan banyak tugas dan membicarakan banyak ide besar tanpa memperhitungkan segi praktis atau kelayakannya. Bila gangguan sudah cukup berat, ia akan bernyanyi-nyanyi, berteriak-teriak, memukul-mukul tembok, dan terus sangat aktif selama beberapa jam. Mereka mudah marah kalau diganggu dan tindakannya dapat bersifat merusak. Menurut DSM-III, gejala perilaku menyimpang yang biasanya disebut manic-depressive, diberi nama gangguan bipolar (a bipolar disorder), karena suasana hati berpindah-pindah dari kutub yang satu ke kutub yang lain dalam suatu kontinum.

Schizophrenia
Ciri umum gangguan ini adalah :
• Gangguan-gangguan pada pikiran dan perhatian penderita
• Gangguan-gangguan pada persepsi. Dunia ini seakan-akan nampak lain di mata penderita
• Gangguan-gangguan pada fungsi efek atau perasaan. Mereka sering terlihat depresif dan menarik diri dari lingkungan
• Menarik diri dari kenyataan. Penderita sering berkhayal sendiri dan tenggelam dalam dunia batinnya sendiri
• Mengalami delusi dan halusinasi. Penderita merasa yakin bahwa sesuatu akan terjadi pada dirinya (delusi) dan kadang-kadang diikuti oleh pengalaman-pengalaman individu (merasa melihat atau mendengar sesuatu) yang tidak dialami oleh orang lain. Bila keyakinan yang timbul adalah seolah-olah ada orang yang mengejar-ngejar dirinya (merasa mau dibunuh misalnya), maka penderita mengalami delusi persekusi. Bila penderita yakin bahwa ia mempunyai kekuatan atau kemampuan luar biasa, ia mengalami delusi grandeur.

Gangguan kepribadian
Gangguan kepribadian merupakan pola-pola perilaku yang bersifat mal-adaptif atau merugikan si pelaku dalam hubungannya dengan orang lain. Beberapa bagian dari gangguan kepribadian adalah :
• Kepribadian narsistik, yaitu rasa kagum yang berlebihan terhadap diri sendiri, merasa selalu berhasil dan superior, selalu mencari perhatian dan pujian, dan tidak peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain
• Kepribadian tergantung, yaitu pasif luar biasa, tidak mampu mengambil suatu keputusan, ada kecenderungan rendah diri, dan kebutuhan yang kuat untuk selalu ditolong orang lain
• Kepribadian antisosial atau yang biasa disebut dengan Psikopat, yaitu kecilnya rasa tanggung jawab, rendahnya nilai-nilai moral, dan dianggap tidak memiliki suara hati, tidak mempunyai perhatian terhadap orang lain, selalu memikirkan diri sendiri, tidak mempunyai rasa bersalah walaupun perilakunya merugikan orang lain. Para ahli berpendapat bahwa gangguan kepribadian ini disebabkan oleh pola asuhan yang salah ketika masih kanak-kanak. Tetapi temuan baru di bidang biologis menunjukkan bahwa kemungkinan individu-individu ini sejak lahir telah membawa cacat yang disebut underreactive autonomic nervous system atau sistem syaraf otonom yang kurang relatif

Gangguan karena obat-obatan berbahaya
Obat-obat berbahaya seperti narkotika, alkohol, ganja, dan pil-pil psikotropika, bila tidak digunakan menurut petunjuk dokter, dapat menimbulkan akibat-akibat yang sangat serius pada diri pemakai. Ciri-ciri utama dari obat-obatan tersebut adalah mempengaruhi sistem syaraf pusat, baik menekan maupun merangsang syaraf pusat, serta mengembangkan toleransi tubuh. Penggunaan dalam takaran berlebihan dan dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan gangguan fisik serius yang dapat menimbulkan kematian. Bila syaraf-syaraf otak rusak karena penggunaan obat-obat berbahaya ini, maka akan timbul gejala-gejala perilaku seperti pada psikosis. Gejala-gejala ini disebut psikosis obat (drug psychosis).



















KESIMPULAN

Secara umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Faktor lingkungan secara garis besar dibagi menjadi 2, yaitu faktor lingkungan yang memperngaruhi anak pada waktu masih di dalam kandungan (faktor pranatal) dan faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak setelah lahir (faktor postnatal).
Kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang, secara umum digolongkan menjadi 3 kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan fisik-biomedis (“ASUH”), kebutuhan emosi/kasih saying (“ASIH”), dan kebutuhan akan stimulasi mental (“ASAH”).
Secara ringkas proses tumbuh kembang anak adalah neonatus  bayi  anak  remaja.
Penilaian status gizi anak meliputi: pemeriksaan klinis diarahkan untuk mencari kemungkinan adanya bintik bitot, xerosis konjungtiva, anemia, pembesaran kelenjar parotis, kheilosis angular, fluorosis, karies, gondok, serta hepato dan splenomegali, penilaian antropometris yaitu penimbangan berat dan pengukuran tinggi badan, lingkar lengan, dan lipatan lipatan kulit triceps, dan uji biokimia ialah pemeriksaan kadar hemoglobin, serta pemeriksaan apusan darah untuk malaria.








DAFTAR PUSTAKA
Arisman, Dr. 2002. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC.
Guyton & Hall. 1997. Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta : EGC.

Sastrawinata, Sulaiman. 1983. Obstetri Fisiologi. Bandung : Eleman.

Soetjiningsih, dr. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC.

http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/ /index.shtml. Diakses tanggal 15 Maret 2009.
http://ridwanamiruddin.wordpress.com/2007/05/05/tumbuh-kembang-anak/. Diakses tanggal 22 Maret 2009.
http://www.perkembangananak.com/2008/10.html Diakses tanggal 22 Maret 2009.
http://www.infoibu.com/imunisasi-anak. Diakses tanggal 22 Maret 2009.
http://c3i.sabda.org/artikel/gangguan mental anak. Diakses tanggal 22 Maret 2009.
http://yudhim.blogspot.com/2008/01/mengenal-beberapa-jenis-gangguan-mental.html. Diakses tanggal 22 Maret 2009.
http://medicastore.com/artikel_index/status-gizi-anak.html. Diakses tanggal 22 Maret 2009
http://busung-lapar.blogspot.com/2006/09/tabel-baku-rujukan-penilaian-status.html. Diakses tanggal 22 Maret 2009.